Alasan kenapa saya tetap menggunakan AI, padahal sangat peduli dengan privasi

Walaupun sangat peduli dengan privasi, penulis tetap menggunakan AI seperti Gemini, ChatGPT, dan Grok karena teknologi ini memberikan manfaat besar untuk pekerjaan, mempercepat tugas, dan mendukung eksplorasi teknologi yang menarik. Penulis juga tahu batasan dan risikonya sehingga penggunaan AI dilakukan secara bijak tanpa memasukkan data pribadi yang sensitif.

Banyak orang disekitar saya tahu bahwa saya adalah orang yang sangat peduli dengan privasi, terutama di internet. Saya jarang sekali, kalau tidak bisa dibilang tidak pernah, mengunggah foto dan video pribadi ke internet.

Intinya saya benar-benar membatasi informasi yang saya unggah ke internet. Kalau pun ada yang ingin saya bagikan, saya akan menyetelnya untuk hanya dapat dilihat oleh orang-orang tertentu seperti teman atau keluarga.

Pertanyaan besarnya adalah, kenapa saya tetap menggunakan aplikasi chatbot AI seperti Gemini, ChatGPT, Grok, dan Claude? Bukankah aplikasi-aplikasi AI seperti itu mengumpulkan data-data pribadi penggunanya?

Saya akan ceritakan itu semua di artikel ini. Dan perlu dicatat bahwa semua ini adalah murni opini saya pribadi, kalian mungkin merasa tidak setuju di beberapa poin (atau semuanya?).

Baca juga: Walaupun simpel, 5 prompt ChatGPT ini tetap berguna di setiap situasi

Saya tahu apa yang saya lakukan

Gemini ai untuk proofreading

Ini mungkin terkesan arogan, tapi sebagai orang yang berkutat di dunia teknologi dan hidup dari industri ini, gampangnya, saya tahu apa yang saya lakukan. Ibaratnya seperti ini, saya masuk ke sebuah bangunan, dan saya tahu di bangunan itu ada CCTV di setiap sudutnya.

Karena saya tahu fakta itu, saya tidak mungkin melakukan hal-hal “bodoh” saat berada di dalam bangunan tersebut. Begitu pun saat menggunakan AI, saya tahu apa yang saya lakukan dengan teknologi ini.

Sejak pertama kali mendaftar ChatGPT, Grok, dan semacamnya, saya menggunakan email sekali pakai. Nama yang saya gunakan juga bukan nama asli saya.

Tidak ada data asli yang saya masukkan ke aplikasi-aplikasi AI. Bahkan saat menggunakannya pun, saya tidak pernah memasukkan informasi-informasi asli saya seperti tempat tinggal, nama, atau yang lainnya.

Saya tahu batasannya

salah paham ai

Saya tidak menggunakan AI untuk bertanya hal-hal yang menyangkut pengambilan keputusan yang krusial dalam hidup saya. Ketika ada keputusan yang perlu saya ambil, apalagi jika sifatnya krusial, saya tidak akan meminta saran dari AI sedikitpun. Saya benar-benar akan merenungkannya sendiri, menimbang-nimbang sendiri, tanpa ada campur tangan dari pihak luar, terlebih AI.

Saya juga menghindari menggunakan AI seperti ChatGPT dan Gemini untuk bertanya hal-hal terkait kesehatan saya. Saya sadar bahwa AI tidak dapat dipercaya 100%, karenanya bertanya seputar kesehatan saya ke AI adalah sebuah kebodohan.

Jika merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuh saya, saya akan datang ke dokter, dan mendapatkan penanganan yang diperlukan. Dan ada banyak lagi sebenarnya hal-hal yang tidak akan pernah saya katakan pada AI, selain dua hal diatas.

Jadi, dari awal menggunakan AI saya memang telah membuat batasan.

Ini adalah bagian dari pekerjaan saya

AI untuk ngoding

Sebagai seseorang yang mengelola blog teknologi serta harus membuat konten-konten teknologi, saya tentu harus mengikuti perkembangan teknologi. Saat ini, AI menjadi teknologi yang sedang banyak dibicarakan.

Saya tidak mungkin “melewatkannya” begitu saja. Saya tidak mungkin tidak ikut mempelajari dan menggunakan AI, sementara ada banyak peluang yang bisa saya dapatkan jika menggunakannya.

Saya dapat membuat banyak artikel seputar AI untuk Androbuntu.com. Saya dapat menggunakan AI untuk mempercepat dan mempermudah pekerjaan saya.

Dan banyak kesempatan lain yang akan hilang jika saya tidak menggunakan AI. Intinya, ini adalah bagian dari pekerjaan saya.

Saya memang tertarik dengan teknologi ini

Chatgpt dan anak 5 tahun

Saya ingat betul saat saya masih berkuliah di semester awal, pada era itu, di Indonesia belum banyak yang tahu soal Bitcoin. Saya juga masih ingat persis harga Bitcoin saat itu adalah 5 juta rupiah untuk 1 BTC.

Saya pernah mencoba membuka obrolan dengan teman-teman saya tentang produk teknologi baru ini. Tapi tidak ada satu pun yang tahu.

Sebelum Andi Leangle dan Kalimasada sering membicarakan soal Bitcoin di Youtube, saya sudah tahu dan “mencoba” langsung produk teknologi ini. Intinya, saya memang suka dengan teknologi-teknologi baru, termasuk yang sedang saya bahas di artikel ini, yaitu AI.

AI memberi saya manfaat

Prompt ai canggih

Saya memandang AI sama dengan teknologi lainnya, seperti internet, crypto, hingga media sosial. Jika saya bisa mendapatkan keuntungan dari teknologi-teknologi tersebut, maka saya akan mempelajari dan menggunakannya.

Dalam hal ini, AI telah memberi saya banyak sekali manfaat. AI membantu banyak sekali pekerjaan saya. Sebagian pekerjaan saya bahkan kini tidak saya lakukan secara manual, banyak dibantu AI.

Sebagai contoh, untuk membuat gambar-gambar ilustrasi yang ada di Androbuntu.com, kini saya lebih banyak menggunakan AI. Ini memangkas waktu yang dibutuhkan secara signifikan jika dibandingkan dengan membuatnya secara manual seperti dulu.

Tidak punya banyak waktu?
Minta AI untuk meringkas artikel ini

Perplexity Pro

Perplexity Pro
Rp 69.000

ChatGPT Pro

ChatGPT Pro
Rp 70.000

Gemini Ultra

Gemini Ultra
Rp 80.000

Samsung Galaxy A26 5G

Samsung Galaxy A26 5G
Rp 3.999.000

Telah mulai menulis secara profesional sejak 2015. Fokus pada penggunaan AI praktis dan aplikatif. Telah menggunakan berbagai tools AI dalam kehidupan sehari-hari—mulai dari eksplorasi untuk hiburan hingga pemanfaatan serius untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja. Konten di blog ini berbasis pengalaman langsung, bukan teori semata.