Waspada Scam Crypto: Kenali Modus yang Paling Sering Makan Korban di Indonesia
Seorang kenalan saya kehilangan Rp47 juta dalam waktu kurang dari satu jam. Bukan karena harga Bitcoin turun. Bukan karena exchange-nya tutup.
Selalu tahu teknologi terbaru
11 artikel
Seorang kenalan saya kehilangan Rp47 juta dalam waktu kurang dari satu jam. Bukan karena harga Bitcoin turun. Bukan karena exchange-nya tutup.
Saya pernah kenal seseorang yang di awal 2021 memasukkan hampir 50% gajinya ke Bitcoin setiap bulan. Alasannya masuk akal waktu itu — harga terus naik, semua orang di grup Telegram ramai, dan dia tidak mau ketinggalan. Lalu harga turun lebih dari 50% di pertengahan 2022. Dia tidak bisa bayar kos bulan itu.
Ada dua tipe orang yang sering saya temui di grup crypto Indonesia. Tipe pertama menunggu bertahun-tahun karena merasa modal mereka tidak cukup — “nanti kalau sudah punya Rp5 juta baru beli.” Tipe kedua kebalikannya: masuk dengan modal besar waktu harga lagi di puncak, sebagian pakai pinjaman, lalu hilang dari grup setelah harga turun 40%.
Saya kenal banyak orang yang sudah “mau beli Bitcoin” sejak 2020. Mereka riset, mereka pantau harga, mereka bilang mau beli kalau harga turun dulu. Harga turun, mereka bilang nunggu lebih turun lagi. Harga naik, mereka menyesal tidak beli waktu masih murah. Siklus ini berulang terus sampai hari ini — dan mereka belum beli satu satoshi pun.
September 2008. Lehman Brothers, salah satu bank investasi terbesar di Amerika Serikat, resmi bangkrut. Bukan bank kecil — ini lembaga keuangan yang berdiri sejak 1847 dan mengelola aset ratusan miliar dolar.
April 2024. Seorang teman mengirim pesan ke saya lewat WhatsApp: “Bro, Bitcoin udah tembus $70.000. Kamu udah beli belum?”
Sobat Androbuntu pasti sudah pernah dengar kata “Bitcoin”. Entah dari berita, dari obrolan teman, atau dari postingan di media sosial. Ada yang bilang Bitcoin bisa bikin orang kaya dalam semalam. Ada yang bilang itu scam. Ada juga yang bilang itu adalah masa depan keuangan dunia.
November 2021. Bitcoin menyentuh harga Rp1 miliar per koin. Media ramai, semua orang bicara soal crypto, dan para influencer berteriak “to the moon!” di mana-mana.
Harga Bitcoin hari ini sudah tembus miliaran rupiah per koin. Kamu lihat angka itu, lalu berpikir: “Waduh, saya cuma punya Rp50 ribu. Berarti tidak mungkin dong beli Bitcoin?”
Bayangkan sebuah buku catatan kelas. Tapi bukan buku catatan biasa — buku ini difotokopi dan dibagikan ke 1.000 orang sekaligus. Setiap kali ada transaksi baru, semua 1.000 orang itu langsung memperbarui catatan mereka secara bersamaan. Kalau ada satu orang yang coba mengubah catatannya sendiri, semua orang lain langsung tahu — karena catatan mereka berbeda.