Hack sederhana agar ChatGPT jawab sesuai ekspektasi (saya gunakan setiap hari)

Saya sudah menggunakan ChatGPT hampir setiap hari sejak pertama kali aplikasi ini diluncurkan. Dari mulai pekerjaan serius sampai hal-hal sepele, semuanya saya tanyakan ke ChatGPT. Tapi jujur, di awal-awal penggunaan, saya sering kesal karena jawaban ChatGPT tidak sesuai dengan yang saya harapkan, terutama untuk pekerjaan-pekerjaan serius.

Baru setelah bereksperimen berminggu-minggu, saya menemukan polanya. Ternyata, masalahnya bukan di ChatGPT. Tapi di cara saya memberikan prompt. Sejak saya mulai mengubah cara saya berkomunikasi dengan ChatGPT, hasilnya langsung berbeda secara signifikan.

Di artikel ini, saya akan bagikan pengalaman saya. Teknik-teknik sederhana yang saya gunakan agar ChatGPT selalu memberikan jawaban yang mendekati ekspektasi saya. Tidak perlu langganan premium, semua ini bisa kamu lakukan di versi gratisan. Dan menariknya lagi, ini bisa kalian aplikasikan ke chatbot lain seperti Claude, Gemini, ataupun Grok.

Baca juga: Daftar istilah AI yang wajib diketahui pemula

Masalah utama: prompt yang terlalu singkat

Kebanyakan orang, termasuk saya dulu, memberikan prompt ke ChatGPT dengan sangat singkat. Contohnya seperti “buatkan saya artikel tentang kucing” atau “tolong edit foto ini jadi lebih bagus”. Lalu kita berharap ChatGPT akan langsung paham apa yang kita inginkan.

Padahal sejatinya, ChatGPT adalah mesin. Dia tidak bisa membaca pikiran kita. Dia tidak tahu seperti apa “artikel tentang kucing” yang ada di bayangan kita. Dia juga tidak tahu definisi “lebih bagus” menurut kita itu seperti apa.

Akibatnya, ChatGPT akan memberikan jawaban yang umum dan medioker. Jawaban yang mungkin secara teknis benar, tapi jauh dari yang kita bayangkan. Ini yang membuat banyak orang frustasi dan akhirnya bilang “ChatGPT tidak berguna”.

Jujur, saya sendiri dulu juga begitu. Sampai akhirnya saya mencoba pendekatan yang berbeda. Pendekatan yang mengubah total cara saya menggunakan ChatGPT.

Teknik pertama: tuliskan konteks sejelas-jelasnya

Bayangkan kamu sedang menjelaskan sesuatu ke teman yang sama sekali tidak tahu latar belakang masalahmu. Kamu pasti akan memberikan konteks lengkap kan? Nah, begitu juga dengan ChatGPT.

Jangan langsung masuk ke inti perintah. Berikan dulu konteksnya. Ceritakan situasinya. Jelaskan tujuanmu. Sebutkan siapa target audiensnya. Semakin lengkap konteks yang kamu berikan, semakin akurat jawabannya.

Contoh nyata dari pekerjaan saya: dulu saya cuma nulis “buatkan fungsi untuk validasi email di Python”. Hasilnya? ChatGPT kasih kode yang benar secara teknis, tapi tidak sesuai dengan arsitektur proyek saya.

Sekarang, saya tulis begini: “Saya sedang mengembangkan aplikasi web menggunakan Flask. Saya butuh fungsi validasi email yang akan dipanggil sebelum data disimpan ke database PostgreSQL. Fungsi ini harus bisa mendeteksi format email yang salah dan memberikan pesan error yang user-friendly. Tolong buatkan fungsinya dengan dokumentasi lengkap.”

Bedanya sangat signifikan. Kode yang dihasilkan langsung bisa saya pakai tanpa banyak modifikasi. Ini menghemat waktu saya berjam-jam.

Teknik menjelaskan konteks seperti ini dapat kamu aplikasikan ke berbagai keperluan, saat ingin membuat email, membuat artikel, mengedit foto dan masih banyak lainnya. Kata kuncinya adalah: konteks yang sejelas-jelasnya.

Teknik kedua: spesifikkan detail teknis sebanyak mungkin

Ini bagian yang paling penting menurut saya. Semakin spesifik prompt yang kamu berikan, semakin bagus hasilnya. Jangan takut untuk menulis prompt yang panjang. Saya pribadi sering menulis prompt sampai 3-4 paragraf.

Bahkan saya pernah menulis prompt yang terlihat seperti satu artikel utuh karena berisi lebih dari 500 kata. Namun ini sangat layak untuk dilakukan mengingat waktu itu pekerjaan yang saya berikan ke ChatGPT cukup kompleks dan butuh detail teknis yang banyak.

Kamu mungkin berpikir “ah, terlalu ribet”. Tapi percayalah, waktu yang kamu habiskan untuk menulis prompt detail itu jauh lebih sedikit dibanding waktu yang terbuang untuk bolak-balik revisi jawaban ChatGPT yang tidak sesuai.

Saat saya minta ChatGPT mengedit foto, saya tidak cuma bilang “edit foto ini jadi profesional”. Tapi saya jelaskan detail-detailnya: pencahayaan seperti apa yang saya mau, warna apa yang harus dominan, background seperti apa, ekspresi wajah harus bagaimana, komposisinya gimana, dan seterusnya.

Hasilnya? Foto yang dihasilkan ChatGPT hampir selalu sesuai dengan yang saya bayangkan. Bahkan teman-teman saya yang lihat hasilnya sering kaget dengan kualitasnya.

Teknik ketiga: berikan batasan dan larangan

Ini salah satu trik yang jarang orang lakukan, tapi efeknya luar biasa. Selain memberitahu ChatGPT apa yang harus dia lakukan, kamu juga harus memberitahu apa yang tidak boleh dia lakukan.

Misalnya, saat saya minta ChatGPT menulis artikel, saya selalu tambahkan instruksi seperti: “Jangan gunakan bahasa yang terlalu formal. Jangan pakai istilah teknis tanpa penjelasan. Jangan buat kalimat lebih dari 25 kata. Jangan gunakan emoji. Jangan buat bullet point kecuali benar-benar diperlukan.”

Kenapa ini penting? Karena ChatGPT punya kecenderungan-kecenderungan tertentu. Dia suka pakai format daftar poin. Dia suka pakai bahasa yang terlalu formal. Dia suka kasih penjelasan yang bertele-tele. Dengan memberikan batasan, kita bisa menghindari kebiasaan-kebiasaan ini.

Saya juga sering tulis “jangan ubah tone penulisan saya” atau “jangan tambahkan informasi yang tidak saya minta”. Ini mencegah ChatGPT terlalu kreatif dan keluar jalur dari yang saya inginkan.

Teknik keempat: berikan contoh konkret

ChatGPT sangat bagus dalam meniru pola. Jadi, salah satu cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang sesuai ekspektasi adalah dengan memberikan contoh.

Misalnya, kalau saya mau ChatGPT menulis dengan gaya tertentu, saya akan kasih contoh tulisan dengan gaya tersebut. Kalau saya mau dia generate kode dengan struktur tertentu, saya kasih contoh kode yang strukturnya seperti yang saya mau.

Ini seperti saat kamu memberikan referensi ke desainer. Alih-alih hanya menjelaskan dengan kata-kata, lebih efektif jika kamu tunjukkan contoh visualnya langsung.

Pernah suatu kali, saya minta ChatGPT membuat email balasan ke klien. Di awal-awal, hasilnya terlalu kaku dan tidak personal. Lalu saya coba kasih contoh email balasan saya sebelumnya yang pernah saya tulis manual. Hasilnya seketika berubah. ChatGPT dapat meniru nada dan gaya komunikasi saya dengan sangat baik.

Teknik kelima: mulai dengan instruksi umum, lalu masuk ke detail

Ini struktur yang hampir selalu saya pakai. Saya mulai dengan memberikan gambaran besar dulu, baru kemudian masuk ke detail-detail spesifik.

Contohnya begini: “Saya ingin kamu bertindak sebagai copywriter profesional yang ahli di bidang teknologi. Target audiens saya adalah pengguna smartphone pemula di Indonesia. Tugas kamu adalah menulis review aplikasi mobile dengan bahasa yang mudah dipahami tapi tetap informatif. Panjang artikel sekitar 800-1000 kata.

Strukturnya harus ada pembukaan, penjelasan fitur utama, kelebihan dan kekurangan, lalu kesimpulan. Gunakan bahasa Indonesia yang santai tapi tetap profesional. Hindari istilah teknis yang terlalu rumit. Jika harus menggunakan istilah teknis, berikan penjelasannya.”

Lihat? Saya mulai dari positioning (copywriter profesional), lalu target audiens, tugas utama, spesifikasi teknis, struktur, gaya bahasa, dan batasan. Semua disampaikan secara bertahap tapi tetap dalam satu prompt.

Dengan struktur seperti ini, ChatGPT punya panduan yang jelas dari awal sampai akhir. Dia tahu harus berperan sebagai apa, untuk siapa, dan seperti apa output yang diharapkan.

Jangan ragu menulis prompt panjang

Satu hal yang mungkin bikin kamu ragu menerapkan semua teknik di atas adalah takut promptnya jadi terlalu panjang. Tapi percayalah, panjangnya prompt tidak masalah. Yang penting adalah kualitas informasi di dalamnya.

Saya pernah menulis prompt sampai 5 paragraf penuh untuk satu tugas. Awalnya saya pikir “ini terlalu berlebihan ya?”. Tapi begitu saya lihat hasilnya, wow, ChatGPT langsung menghasilkan output yang hampir sempurna. Saya cuma perlu sedikit tweak di sana-sini.

Bandingkan dengan kalau saya cuma kasih prompt 1-2 kalimat. Saya pasti harus bolak-balik revisi berkali-kali. Ujung-ujungnya malah lebih buang waktu.

Jadi, jangan takut untuk menulis prompt detail. Anggap saja kamu sedang menjelaskan tugas ke asisten baru yang belum tahu apa-apa tentang pekerjaanmu. Semakin detail kamu menjelaskan, semakin bagus hasil kerjanya.

Kombinasikan semua teknik untuk hasil maksimal

Kelima teknik yang saya sebutkan di atas sebenarnya tidak berdiri sendiri. Saya selalu mengkombinasikan semuanya dalam satu prompt. Hasilnya selalu lebih baik dibanding kalau cuma pakai satu atau dua teknik saja.

Workflow saya biasanya begini: pertama, saya tulis konteks dan gambaran besar. Kedua, saya masukkan detail teknis spesifik. Ketiga, saya tambahkan batasan dan larangan. Keempat, kalau perlu, saya kasih contoh referensi. Terakhir, saya review lagi promptnya, pastikan tidak ada yang tertinggal.

Memang butuh waktu beberapa menit untuk menyusun prompt seperti ini. Tapi hasilnya sangat sepadan. Daripada buang waktu berjam-jam untuk revisi atau malah tidak dapat hasil yang memuaskan sama sekali.

Saya sudah menggunakan pendekatan ini untuk berbagai keperluan. Mulai dari ngoding, menulis artikel, edit foto, analisis data, sampai membuat presentasi. Semuanya memberikan hasil yang jauh lebih memuaskan dibanding dulu saat saya masih kasih prompt seadanya.

Kesimpulan: kualitas output tergantung kualitas input

Setelah menggunakan ChatGPT secara intensif selama ini, satu hal yang pasti: kualitas output ChatGPT sangat bergantung pada kualitas prompt yang kita berikan. ChatGPT itu seperti cermin. Kalau kamu kasih input yang asal-asalan, outputnya juga akan asal-asalan.

Tapi kalau kamu serius menyusun prompt dengan baik, memberikan konteks lengkap, detail spesifik, batasan jelas, apalagi jika diberikan contoh referensi, ChatGPT akan memberikan hasil yang luar biasa bagus. Bahkan dengan versi gratisan sekalipun.

Jadi mulai sekarang, jangan malas untuk menulis prompt yang detail. Anggap saja seperti kamu sedang menginvestasikan waktu di awal untuk menghemat waktu yang jauh lebih banyak di kemudian hari. Percayalah, hasilnya akan sangat berbeda.

Kalau kamu tertarik mempelajari lebih dalam tentang cara memaksimalkan ChatGPT, kamu bisa lihat berbagai contoh prompt AI yang sudah saya tulis sebelumnya. Semua teknik yang saya bagikan di atas saya terapkan di sana. Silakan dipelajari dan diterapkan sesuai kebutuhan kamu.

Tidak punya banyak waktu?
Minta AI untuk meringkas artikel ini

Perplexity Pro

Perplexity Pro
Rp 69.000

ChatGPT Pro

ChatGPT Pro
Rp 70.000

Gemini Ultra

Gemini Ultra
Rp 80.000

Samsung Galaxy A26 5G

Samsung Galaxy A26 5G
Rp 3.999.000

Gamer paruh waktu.