Risiko Investasi Crypto yang Jarang Dibahas (dan Cara Menghindarinya)

Desember 2021. Banyak orang Indonesia membeli Bitcoin di harga Rp900 juta per koin. Setahun kemudian, harga Bitcoin anjlok ke kisaran Rp250 juta. Jutaan rupiah lenyap dalam hitungan bulan. Ini bukan cerita fiksi โ€” ini kenyataan yang dialami ribuan investor Indonesia.

Dan ini bukan satu-satunya cerita pahit yang pernah saya terjadi.

Teman saya pernah menginvestasikan Rp212 juta ke sebuah proyek crypto baru yang menjanjikan keuntungan 100 kali lipat. Proyeknya terdengar meyakinkan โ€” ada website yang rapi, whitepaper yang panjang, dan influencer yang ramai mempromosikannya. Sebulan kemudian, website-nya hilang. Developer-nya kabur. Uang Rp212 juta itu? Hilang selamanya. Inilah yang disebut rug pull.

Saya ceritakan dua kisah ini bukan untuk menakut-nakuti Sobat Androbuntu. Saya juga tidak akan bilang bahwa crypto itu buruk atau harus dihindari. Karena faktanya, banyak orang yang memang telah mendapatkan keuntungan besar dari investasi crypto.

Yang ingin saya sampaikan adalah memastikan kamu masuk ke dunia crypto dengan mata terbuka. Tahu risikonya. Paham cara menghadapinya. Karena dalam investasi, terutama yang high risk seperti crypto, edukasi adalah bentuk perlindungan terbaik yang bisa kamu miliki.

Dalam artikel ini, saya akan membahas 7 risiko utama investasi crypto yang jarang dibahas secara jujur โ€” masing-masing disertai contoh kasus nyata dan cara mitigasinya. Di bagian akhir, saya juga akan berikan panduan praktis untuk kamu yang ingin mulai atau sudah terjun ke dunia crypto.

Satu hal yang harus saya tegaskan dulu: artikel ini bukan nasihat investasi. Semua keputusan investasi adalah tanggung jawab kamu sendiri. Lakukan riset sendiri (DYOR โ€” Do Your Own Research) sebelum invest. Dan yang paling penting: jangan pernah invest uang yang tidak sanggup kamu tanggung jika hilang.

Baca juga: Mengenal Blockchain, teknologi di balik Bitcoin dan crypto

Table of Contents

Kenapa Crypto Itu High Risk?

Crypto itu high risk

Sebelum membahas risiko satu per satu, penting untuk memahami dulu kenapa crypto masuk kategori investasi high risk.

Perbedaan Crypto dengan Investasi Tradisional

Kalau kamu selama ini terbiasa dengan saham atau reksa dana, crypto itu berbeda dalam hampir segala aspek.

AspekSaham/Reksa DanaCrypto
RegulasiKetat (OJK)Minim (Bappebti baru mulai)
Volatilitas10โ€“30% per tahun50โ€“300% per tahun (bisa lebih)
Jam tradingSeninโ€“Jumat, 09.00โ€“16.0024 jam, 7 hari, 365 hari
Perlindungan investorAda (LPS untuk deposito)Tidak ada
Usia pasar100+ tahun~15 tahun
Transparansi informasiLaporan keuangan, audit resmiWhitepaper (kadang tidak jelas)

Tidak ada satu pun aspek di atas yang membuat crypto lebih “aman” dari investasi tradisional. Ini bukan berarti crypto tidak layak untuk dipertimbangkan, tapi kamu harus sadar bahwa aturan mainnya berbeda sama sekali.

Karakteristik Crypto yang Menjadikannya High Risk

Crypto adalah teknologi yang masih sangat muda dan belum teruji dalam jangka panjang. Harganya lebih banyak digerakkan oleh sentimen pasar daripada fundamental yang bisa diukur. Pasar buka 24 jam tanpa jeda dan tanpa circuit breaker seperti di bursa saham.

Yang lebih krusial: tidak ada pihak ketiga yang bisa membantu jika ada masalah. Salah transfer ke alamat yang salah? Tidak bisa dibatalkan. Exchange tutup? Tidak ada LPS yang menjamin. Wallet di-hack? Tidak ada asuransi yang menanggung.

Dengan semua itu, mari kita bahas satu per satu risikonya.

Risiko #1: Volatilitas Ekstrem

Seberapa Volatile Sebenarnya?

Kata “volatil” mungkin sudah sering kamu dengar. Tapi mungkin kamu belum benar-benar membayangkan seberapa ekstremnya.

Ambil contoh Bitcoin di tahun 2021:

  • Januari: harga sekitar Rp500 juta
  • April: naik ke Rp900 juta (+80%)
  • Juni: turun ke Rp450 juta (-50%)
  • November: naik lagi ke Rp1 miliar (+122%)

Dalam satu tahun saja, swing-nya lebih dari 500%. Bandingkan dengan saham blue chip seperti BBCA atau TLKM yang volatilitasnya sekitar 10โ€“20% per tahun. Untuk altcoin kecil, volatilitasnya bisa jauh lebih ekstrem lagi โ€” 500 hingga 1.000% bukan hal yang mustahil.

Kenapa Bisa Seperti Ini?

Pasar crypto masih jauh lebih kecil dibandingkan pasar saham atau emas global, sehingga lebih mudah digerakkan oleh satu berita besar atau bahkan satu tweet dari orang berpengaruh seperti Elon Musk. Ditambah lagi, tidak ada mekanisme penghenti kerugian (circuit breaker) seperti yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Trading dengan leverage juga memperbesar pergerakan harga secara signifikan. Kalau ada banyak trader yang menggunakan leverage tinggi, satu pergerakan kecil bisa memicu likuidasi berantai yang membuat harga jatuh atau naik secara dramatis dalam hitungan menit.

Dua Skenario yang Sering Dialami Pemula

Skenario FOMO: Andi melihat Bitcoin naik dari Rp700 juta ke Rp900 juta dalam sebulan. Ia takut ketinggalan, lalu membeli di harga puncak. Seminggu kemudian harga turun ke Rp750 juta. Dua bulan kemudian turun lagi ke Rp600 juta. Andi panik dan jual rugi.

Skenario Panic Sell: Fatma membeli Ethereum di harga Rp60 juta. Dalam dua minggu, harganya turun ke Rp30 juta (-50%). Fatma takut akan jadi nol, lalu jual di Rp30 juta dan rugi Rp30 juta. Enam bulan kemudian, ETH kembali ke Rp60 juta. Kalau Fatma hold, ia tidak rugi sama sekali.

Dua skenario ini terjadi berulang kali pada investor pemula. Dan dua-duanya bisa dihindari.

Cara Mitigasi Risiko Volatilitas

DCA (Dollar Cost Averaging) adalah strategi yang paling direkomendasikan untuk pemula. Daripada membeli sekaligus dalam jumlah besar, cicil pembelian secara rutin โ€” misalnya Rp500.000 per bulan setiap tanggal 1. Dengan begitu, rata-rata harga beli kamu akan lebih stabil dan kamu tidak perlu pusing menebak-nebak kapan harga di titik terendah.

Strategi DCA ini sederhana tapi powerful. Bayangkan kamu beli Bitcoin senilai Rp500.000 setiap bulan selama setahun. Di bulan-bulan ketika harga tinggi, kamu dapat lebih sedikit Bitcoin. Di bulan-bulan ketika harga rendah, kamu dapat lebih banyak. Rata-rata harga belimu akan jauh lebih stabil dibanding kalau kamu taruh semua uang di satu waktu.

HODL jangka panjang juga terbukti efektif bagi mereka yang sabar. Bitcoin yang dibeli di harga berapa pun pada tahun 2015 kini sudah untung besar, terlepas dari semua volatilitas yang terjadi di tengah-tengah. Kuncinya: tetapkan target waktu minimal 1โ€“2 tahun, dan jangan terlalu sering cek harga.

Jangan all-in. Alokasikan crypto hanya sebagian kecil dari total portofolio investasimu. Contoh sederhana: 70% di saham atau reksa dana, 30% di crypto. Atau lebih konservatif: 90% di aset aman, 10% di crypto. Tidak ada aturan baku, yang penting kamu tidak taruh semua telur dalam satu keranjang.

Risiko #2: Kehilangan Akses โ€” Private Key Hilang Berarti Crypto Hilang Selamanya

Apa Itu Private Key dan Seed Phrase?

Kalau kamu menyimpan crypto di wallet pribadi (bukan di exchange), kamu akan mengenal dua istilah penting ini. Private key adalah semacam “kata sandi master” untuk mengakses wallet-mu. Sementara seed phrase adalah 12โ€“24 kata yang berfungsi sebagai cadangan (backup) untuk memulihkan wallet jika perangkat kamu hilang atau rusak.

Prinsip fundamental di dunia crypto adalah: Not your keys, not your coins โ€” kalau kamu tidak pegang private key-nya sendiri, crypto itu secara teknis bukan milikmu sepenuhnya.

Kenapa Ini Jadi Risiko Besar?

Di dunia crypto, tidak ada yang namanya “lupa password” yang bisa diselesaikan lewat email konfirmasi. Tidak ada customer service yang bisa mereset akun. Tidak ada pusat data yang menyimpan cadangan. Kalau seed phrase hilang, crypto di dalamnya hilang selamanya โ€” tidak ada pengecualian.

Ini bukan sekadar teori. Berikut beberapa kasus nyata yang pernah membuat dunia heboh.

Kasus James Howells (UK): Pada tahun 2013, ia membuang sebuah hard drive lama yang berisi 7.500 Bitcoin. Kini nilai hard drive itu mencapai lebih dari $300 juta, dan ia tahu persis di mana landfill tempatnya dibuang โ€” tapi tidak bisa mengambilnya kembali.

Kasus Stefan Thomas (San Francisco): Ia menyimpan 7.002 Bitcoin di USB terenkripsi IronKey. Lupa password-nya. IronKey hanya memberi 10 kali kesempatan salah memasukkan password sebelum data terhapus selamanya. Stefan sudah salah 8 kali. Nilainya saat ini sekitar $240 juta.

Kasus investor Indonesia (anonim): Menyimpan seed phrase dalam bentuk screenshot di HP. HP hilang. Crypto senilai Rp100 juta lebih ikut hilang.

Kesalahan Umum yang Bikin Kehilangan Akses

Banyak pengguna baru yang menyimpan seed phrase dalam bentuk screenshot di galeri HP atau mengunggahnya ke cloud. Ini sangat berbahaya. HP bisa hilang, rusak, atau kena hack. Cloud pun bukan tempat yang sepenuhnya aman.

Ada juga yang tidak melakukan backup sama sekali โ€” hanya mengandalkan ingatan, atau menyimpan di satu tempat saja. Satu kertas terbakar, satu catatan hilang, dan segalanya ikut lenyap.

Cara Mitigasi Risiko Kehilangan Akses

Tuliskan seed phrase secara manual di kertas โ€” bukan di catatan di HP, bukan di Google Docs, bukan di foto. Simpan di minimal dua atau tiga tempat berbeda: di rumah sendiri, di rumah orang tua, atau di safe deposit box bank. Untuk jumlah yang sangat besar, ada produk metal plate yang bisa mencetak seed phrase dalam logam tahan api dan air.

Jangan pernah membagikan seed phrase ke siapa pun โ€” tidak ke “tim support“, tidak ke teman, tidak ke keluarga. Tidak ada layanan crypto yang sah yang akan meminta seed phrase kamu.

Untuk pemula yang belum terlalu paham tentang wallet pribadi, menyimpan crypto di exchange terpercaya seperti Indodax atau Tokocrypto adalah pilihan yang lebih mudah untuk memulai. Ada fitur forgot password di sana. Tapi jangan simpan semua aset hanya di satu exchange โ€” kita akan bahas risikonya di bagian selanjutnya.

Risiko #3: Scam dan Rug Pull โ€” Uang Hilang Tanpa Jejak

Rug pull crypto

Apa Itu Rug Pull?

Rug pull adalah istilah untuk penipuan di mana developer membuat proyek crypto baru, mengumpulkan dana dari investor, lalu kabur membawa seluruh uangnya. Mereka “mencabut karpet” (secara harfiah: pulling the rug) dari bawah kaki investor.

Ini bukan kejadian langka. Di dunia crypto, terutama di ekosistem DeFi (Decentralized Finance), rug pull terjadi hampir setiap hari.

Jenis-Jenis Scam yang Perlu Diwaspadai

Skema Ponzi adalah yang paling klasik. Mereka menjanjikan profit tetap yang tidak masuk akal โ€” misalnya 10% per bulan โ€” yang secara matematis hanya bisa dipertahankan dengan uang dari investor baru. Begitu aliran investor baru berhenti, semuanya runtuh.

BitConnect adalah contoh paling terkenal. Mereka menjanjikan 1% keuntungan per hari. Pada 2018, platform ini collapse dan investor kehilangan lebih dari $2 miliar. Di Indonesia, kasus serupa terjadi berulang kali dalam bentuk “robot trading” atau “mining cloud” yang menjanjikan profit tidak masuk akal.

Fake ICO/IEO adalah modus lain. Developer membuat whitepaper yang terlihat meyakinkan, menjanjikan teknologi yang akan “mengubah dunia”, mengumpulkan dana dari investor, lalu menghilang begitu dana sudah terkumpul. Di masa ICO yang ramai pada 2017โ€“2018, lebih dari 80% proyek terbukti menjadi scam atau gagal total.

Rug pull di DeFi biasanya terjadi seperti ini: sebuah token baru diluncurkan di platform seperti Uniswap atau PancakeSwap, dipromosikan besar-besaran dengan janji APY ribuan persen, investor berbondong-bondong masuk, lalu developer menarik semua likuiditas dan token langsung jadi tidak berharga.

Kasus Squid Game Token di 2021 adalah contoh yang paling viral. Token ini memanfaatkan popularitas serial Netflix, harganya naik 45.000% dalam hitungan hari, lalu developer melakukan rug pull senilai $3,3 juta. Banyak investor yang tidak bisa menjual token mereka karena smart contract-nya memang dirancang agar tidak bisa dijual.

Kasus di Indonesia: Pada 2021, platform MeMiles menjanjikan cashback dalam bentuk crypto dari aktivitas belanja. Mereka berhasil mengumpulkan Rp35 miliar dari sekitar 14.000 investor. Pendirinya kemudian ditangkap polisi, dan sebagian besar uang sudah tidak bisa kembali.

Cara Menghindari Scam

Sebelum invest di proyek crypto apa pun, tanyakan dulu pertanyaan-pertanyaan ini: Siapa founder-nya? Apakah identitasnya bisa diverifikasi? Apakah ada working product (produk yang sudah bisa digunakan) atau hanya janji? Apa kata komunitas di Reddit dan Twitter tentang proyek ini?

Waspadai red flag berikut: janji profit pasti atau sangat tinggi, tim yang anonim tanpa jejak rekam yang bisa diverifikasi, struktur MLM (dapat bonus kalau berhasil mengajak orang lain), tidak ada whitepaper atau whitepaper-nya tidak masuk akal secara teknis, dan tekanan psikologis “invest sekarang atau kelewatan”.

Jika dua atau lebih red flag di atas ada, hindari. Sesimpel itu.

Selalu double check URL sebelum membuka situs exchange atau wallet. Bookmark situs-situs penting untuk menghindari typo yang bisa mengarahkan ke situs palsu. Dan untuk pemula, tetap di proyek-proyek yang sudah terbukti โ€” Bitcoin, Ethereum, dan crypto yang masuk daftar 20 besar berdasarkan market cap.

Risiko #4: Hack dan Security Breach

Exchange Bisa Di-Hack

Ini bukan sekadar kemungkinan โ€” ini sudah terjadi berkali-kali, bahkan pada exchange terbesar sekalipun.

Mt. Gox (2014) adalah peringatan paling keras dalam sejarah crypto. Saat itu, Mt. Gox menangani sekitar 70% volume perdagangan Bitcoin global. Kemudian terungkap bahwa 850.000 BTC telah dicuri lewat hack yang berlangsung selama bertahun-tahun. Nilainya saat ini mencapai lebih dari $40 miliar. Proses pengembalian dana investor baru selesai sebagian setelah lebih dari 10 tahun.

FTX (2022) adalah kasus yang lebih mengejutkan karena bukan hack dari luar, melainkan fraud internal. Founder-nya, Sam Bankman-Fried, menggunakan dana nasabah untuk keperluan investasi pribadi. Ketika terungkap, exchange langsung bangkrut dan $8 miliar dana nasabah hilang.

Kasus-kasus ini mengajarkan satu hal penting: crypto yang kamu simpan di exchange secara teknis bukan milikmu sepenuhnya. Kamu hanya punya klaim atas crypto tersebut. Dan kalau exchange-nya bermasalah, klaimmu bisa tidak bernilai apa-apa.

Bagaimana Hacker Bisa Mencuri Crypto?

Salah satu cara yang paling umum adalah phishing โ€” hacker membuat situs palsu yang tampilannya hampir identik dengan exchange asli. Kamu tanpa sadar memasukkan username dan password di situs palsu itu, dan seketika akun kamu ada di tangan mereka.

Malware juga menjadi ancaman nyata. Ada jenis malware yang disebut clipboard hijacker โ€” saat kamu menyalin (copy) alamat wallet tujuan, malware ini diam-diam mengganti alamat di clipboard-mu dengan alamat milik hacker. Kamu yang tidak teliti akan langsung mengirimkan crypto ke hacker tanpa menyadarinya.

SIM swap adalah serangan yang lebih canggih: hacker menghubungi operator selulermu dan dengan dalih tertentu meminta nomor HP-mu dipindahkan ke kartu SIM yang mereka miliki. Setelah berhasil, mereka bisa menerima kode 2FA via SMS dan masuk ke akun crypto-mu.

Cara Melindungi Diri dari Hack

Aktifkan two-factor authentication (2FA) menggunakan aplikasi seperti Google Authenticator โ€” bukan via SMS, karena SMS bisa diretas lewat SIM swap. Di Indodax, fitur ini tersedia dan sangat direkomendasikan untuk diaktifkan.

Gunakan fitur whitelist alamat withdrawal jika tersedia. Dengan begitu, hacker yang berhasil masuk ke akun kamu pun tidak bisa memindahkan crypto ke alamat yang tidak kamu daftarkan sebelumnya.

Selalu verifikasi ulang alamat wallet tujuan sebelum menekan tombol kirim โ€” bandingkan beberapa karakter pertama dan terakhir alamat tersebut. Jangan hanya melihat sekilas dan langsung konfirmasi.

Untuk jumlah crypto yang sudah cukup besar (di atas Rp10 juta misalnya), pertimbangkan untuk memindahkan sebagian ke wallet pribadi. Kamu bisa membaca panduan lengkapnya di artikel cara transfer crypto dari Indodax ke wallet pribadi.

Jangan pernah klik link dari email atau pesan yang mengklaim ada masalah dengan akunmu. Selalu akses exchange langsung dari browser dengan mengetikkan URL-nya atau dari bookmark yang sudah kamu simpan. Dan selalu perbarui perangkat lunak โ€” sistem operasi, aplikasi wallet, dan antivirus โ€” secara berkala.

Risiko #5: Regulasi dan Legal Uncertainty

Status Legal Crypto di Indonesia Saat Ini

Saat ini, crypto di Indonesia diakui oleh Bappebti sebagai komoditas โ€” bukan alat pembayaran. Kamu boleh membeli, menjual, dan menyimpan crypto melalui exchange yang sudah terdaftar di Bappebti seperti Indodax, Tokocrypto, dan Pintu. Tapi Bank Indonesia melarang penggunaan crypto sebagai alat pembayaran. Dan setiap transaksi crypto dikenai pajak.

Soal pajak, perlu kamu tahu bahwa ada dua komponen pajak crypto yang berlaku di Indonesia. Pertama, pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 0,11% yang dipungut oleh exchange. Kedua, pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,1% dari nilai transaksi. Kedua pajak ini sudah dipotong langsung oleh exchange yang terdaftar setiap kali kamu melakukan transaksi โ€” jadi kamu tidak perlu menghitung dan menyetorkan sendiri. Tapi kamu tetap berkewajiban melaporkannya dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan.

Yang perlu kamu sadari: semua aturan ini bisa berubah sewaktu-waktu. Kebijakan regulasi crypto di Indonesia masih terus berkembang dan belum sepenuhnya stabil.

Apa yang Terjadi di Negara Lain?

China pada tahun 2021 memutuskan untuk melarang total mining dan perdagangan crypto. Semua exchange lokal harus tutup. Investor China yang menyimpan crypto di exchange lokal tiba-tiba tidak bisa mengakses aset mereka.

India beberapa kali berencana melarang crypto, akhirnya tidak jadi โ€” tapi memilih menerapkan pajak yang sangat tinggi (30% per transaksi). Nigeria melarang bank melayani transaksi crypto sehingga perdagangan jadi sangat sulit.

Ini bukan berarti Indonesia pasti akan mengikuti langkah yang sama. Tapi ini menunjukkan bahwa risiko regulasi adalah nyata dan bisa terjadi kapan saja.

Cara Mitigasi Risiko Regulasi

Punya akun di lebih dari satu exchange adalah langkah bijak. Jika satu exchange terpaksa tutup karena regulasi, kamu masih punya akses lewat exchange lain.

Untuk crypto yang kamu simpan jangka panjang, memindahkan ke wallet pribadi memberikan perlindungan lebih โ€” pemerintah bisa menutup exchange, tapi secara teknis tidak bisa mengambil crypto yang ada di wallet pribadi yang kamu kelola sendiri.

Yang tidak kalah penting: patuhi kewajiban pajak crypto kamu. Lapor dan bayar pajak dengan benar untuk menghindari masalah hukum di masa depan.

Risiko #6: Tidak Ada Perlindungan Konsumen

Perbedaan Mendasar dengan Tabungan Bank

Kalau kamu menyimpan uang di bank dan bank tersebut bangkrut, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) akan menjamin tabungan kamu hingga Rp2 miliar. Ada negara yang memback up, ada jaminan hukum yang jelas.

Di crypto, tidak ada yang namanya LPS. Tidak ada jaminan dari pemerintah. Tidak ada asuransi wajib. Kalau exchange tempat kamu menyimpan crypto bangkrut atau terbukti melakukan fraud, uang kamu bisa hilang tanpa ada yang bertanggung jawab secara hukum untuk menggantinya.

Kasus FTX: Tidak Ada yang “Too Big to Fail” di Crypto

FTX adalah exchange terbesar kedua di dunia pada tahun 2022. Dianggap sebagai salah satu yang paling terpercaya. Banyak investor institusional besar yang menaruh dana di sana. Kemudian dalam hitungan hari, semuanya runtuh.

Para nasabah tidak bisa withdraw. Proses hukum berjalan berbulan-bulan. Sebagian dana ada yang kembali, sebagian lagi tidak.

Lessons yang bisa dipetik: tidak ada exchange, sebesar apa pun, yang bisa dijamin 100% aman.

Cara Melindungi Diri

Pilih exchange yang sudah terdaftar resmi dan memiliki rekam jejak yang baik. Di Indonesia, perbandingan antara Indodax, Tokocrypto, dan Pintu bisa membantu kamu memilih yang paling sesuai dengan kebutuhanmu.

Jangan simpan semua crypto di satu exchange. Bagi ke dua atau tiga platform. Dan untuk jumlah yang sudah signifikan, pindahkan ke wallet pribadi โ€” bukan untuk disimpan di exchange selamanya.

Pantau juga kesehatan exchange yang kamu gunakan. Apakah ada berita negatif? Apakah exchange tersebut transparan soal cadangan aset mereka (proof of reserves)?

Risiko #7: FOMO dan Keputusan Emosional

Fomo crypto

Ini adalah risiko yang paling sering diremehkan, padahal dampaknya bisa sama dahsyatnya dengan hack atau scam.

Crypto Adalah Emotional Rollercoaster

Pasar crypto buka 24 jam. Harga bisa naik 20% saat kamu tidur dan turun 30% saat kamu makan siang. Tidak ada waktu “istirahat” dari fluktuasi harga. Bagi banyak investor, ini bisa menjadi sumber stres yang luar biasa โ€” dan stres itulah yang mendorong keputusan buruk.

Kesalahan Emosional yang Paling Sering Terjadi

FOMO (Fear of Missing Out) terjadi ketika kamu melihat harga naik drastis dan takut ketinggalan. Dorongan untuk segera membeli sangat kuat, bahkan ketika harganya sudah di puncak. Hasilnya: buy high โ€” kebalikan dari prinsip dasar investasi.

Panic sell terjadi ketika harga turun tajam dan kamu takut akan terus turun. Kamu jual di titik rendah, dan beberapa minggu kemudian harga recovery. Hasilnya: sell low โ€” sekali lagi kebalikan dari yang seharusnya.

Keserakahan (greed) terjadi ketika kamu sudah untung besar tapi tidak mau merealisasikan profit karena yakin masih bisa naik lebih tinggi. Sampai akhirnya harga balik turun dan profit yang sudah ada di depan mata hilang begitu saja.

Revenge trading adalah yang paling berbahaya: setelah rugi, kamu trading lagi dengan jumlah yang lebih besar untuk “balas dendam” dan mendapatkan kembali kerugiannya. Hampir selalu berakhir dengan kerugian yang lebih besar.

Bias Psikologis yang Perlu Diwaspadai

Selain emosi yang sudah disebutkan di atas, ada beberapa bias psikologis yang sangat umum dialami oleh investor crypto pemula.

Confirmation bias terjadi ketika kamu hanya mencari informasi yang mendukung keyakinanmu. Sudah beli Bitcoin? Kamu cenderung hanya membaca berita bullish dan mengabaikan analisis yang memperingatkan potensi koreksi. Padahal informasi yang kamu abaikan itulah yang justru seringkali lebih penting.

Anchoring adalah kecenderungan untuk “menempel” pada satu harga referensi. “Bitcoin pernah di Rp1 miliar, pasti akan balik ke sana” adalah contoh yang paling sering terdengar. Kenyataannya, tidak ada yang bisa menjamin harga akan kembali ke titik tertentu. Pasar tidak peduli dengan harga yang pernah terjadi di masa lalu.

Sunk cost fallacy adalah jebakan yang paling sulit dihindari: “Udah rugi 50%, kalau jual sekarang berarti rugi beneran. Hold dulu sambil nunggu recovery.” Pemikiran ini terasa logis, tapi sesungguhnya berbahaya โ€” keputusan investasi terbaik seharusnya berdasarkan prospek ke depan, bukan berapa banyak yang sudah kamu keluarkan di masa lalu.

Cara Mengelola Emosi dalam Investasi Crypto

Buat aturan investasi sebelum mulai invest, bukan saat pasar sedang bergerak liar. Misalnya: “Saya akan hold minimal 1 tahun”, “Jika profit sudah 50%, saya akan take profit 30%”, “Jika turun -30% dari harga beli, saya cut loss“. Tulis di mana-mana kalau perlu, dan patuhi aturan itu meski godaan untuk menyimpangnya sangat kuat.

Kurangi frekuensi mengecek harga. Untuk investor jangka panjang, cek harga sekali seminggu sudah lebih dari cukup. Terlalu sering melihat pergerakan harga hanya akan membuat kamu lebih rentan terhadap keputusan emosional yang kamu sesali kemudian.

Catat setiap keputusan investasi dan alasan di baliknya. Review setiap bulan. Apakah keputusan itu berdasarkan analisis, atau berdasarkan emosi? Journaling sederhana seperti ini bisa membuat kamu jauh lebih disiplin โ€” dan kamu juga akan belajar banyak dari pola keputusanmu sendiri.

Risiko Tambahan yang Juga Perlu Kamu Tahu

Tujuh risiko di atas adalah yang paling signifikan, tapi bukan berarti hanya itu saja. Ada beberapa risiko lain yang lebih jarang dibahas tapi tetap nyata dan perlu kamu pertimbangkan.

Risiko Teknis: Smart Contract yang Cacat

Banyak proyek crypto modern, terutama di ekosistem DeFi, berjalan di atas smart contract โ€” program komputer yang berjalan otomatis di blockchain. Masalahnya, program komputer bisa punya bug. Dan kalau bug itu ada di smart contract, konsekuensinya bisa sangat parah: dana investor terkunci selamanya, atau bahkan bisa dicuri oleh pihak yang menemukan celah tersebut.

Kasus Poly Network pada 2021 adalah salah satu contoh paling dramatis: hacker berhasil mencuri lebih dari $600 juta dalam hitungan jam karena menemukan kerentanan di smart contract-nya. Untungnya, dalam kasus itu hacker akhirnya mengembalikan dana โ€” tapi ini pengecualian, bukan aturan.

Untuk menghindari risiko ini, prioritaskan proyek yang kode smart contract-nya sudah diaudit oleh lembaga keamanan blockchain yang kredibel. Jangan pernah invest di protokol baru yang belum melalui audit.

Risiko Likuiditas: Altcoin yang Susah Dijual

Ini sering diabaikan oleh pemula yang tergiur membeli altcoin dengan market cap kecil. Ketika kamu ingin menjualnya, kamu mungkin menemukan bahwa tidak ada yang mau membeli โ€” atau kamu harus menjual dengan harga yang jauh lebih rendah dari yang kamu harapkan karena volume perdagangannya sangat rendah.

Semakin kecil market cap sebuah crypto, semakin tinggi risiko likuiditasnya. Ini salah satu alasan mengapa pemula sebaiknya mulai dengan Bitcoin dan Ethereum โ€” keduanya memiliki volume perdagangan yang sangat tinggi sehingga bisa dibeli dan dijual kapan saja dengan harga yang wajar.

Risiko Warisan: Bagaimana Jika Kamu Meninggal?

Ini adalah topik yang tidak nyaman tapi sangat penting untuk dipikirkan, terutama jika jumlah crypto yang kamu miliki sudah signifikan. Kalau kamu meninggal dan ahli warismu tidak tahu di mana seed phrase kamu disimpan, crypto-mu tidak bisa diakses siapa pun.

Tidak seperti tabungan bank yang bisa diurus lewat surat kematian dan prosedur warisan, crypto di wallet pribadi hanya bisa diakses dengan seed phrase. Tidak ada bank, tidak ada pengacara, tidak ada pengadilan yang bisa membantu kalau seed phrase-nya hilang.

Solusinya adalah memiliki rencana yang jelas: simpan seed phrase di tempat yang bisa ditemukan oleh orang yang kamu percaya โ€” misalnya di safe deposit box bank bersama dokumen wasiat โ€” dan pastikan orang tersebut tahu cara menggunakannya.

Cara Mitigasi Semua Risiko: Best Practices untuk Investor Crypto Indonesia

Aturan Emas Investasi Crypto

Pertama: Hanya invest uang yang sanggup kamu tanggung jika hilang semua. Jangan gunakan uang untuk kebutuhan sehari-hari, cicilan, atau uang makan. Gunakan “uang dingin” โ€” uang yang kalau lenyap pun tidak akan mengganggu kehidupan kamu. Kalau kamu sampai tidak bisa tidur memikirkan investasi crypto-mu, itu tanda bahwa jumlah yang kamu invest sudah melampaui toleransi risikomu.

Kedua: DYOR sebelum invest apa pun. Jangan invest hanya karena teman bilang bagus atau karena influencer di YouTube mempromosikannya. Baca whitepaper-nya, cari tahu siapa founder-nya, cek komunitas, cek track record proyeknya. Luangkan minimal beberapa jam untuk riset sebelum memutuskan โ€” ini adalah uangmu dan tidak ada yang lebih peduli terhadapnya selain dirimu sendiri.

Ketiga: Diversifikasi. Jangan all-in di satu crypto. Dan jangan jadikan crypto satu-satunya instrumen investasimu. Campur dengan saham, reksa dana, atau instrumen lain yang lebih stabil. Ini bukan tentang membagi uang ke banyak tempat tanpa alasan โ€” ini tentang memastikan bahwa kinerja buruk di satu aset tidak menghancurkan seluruh keuanganmu.

Keempat: Berpikir jangka panjang. Crypto bukan skema cepat kaya. Volatilitas jangka pendek adalah hal biasa. Yang terbukti menguntungkan secara historis adalah mereka yang bisa bersabar dan hold dalam jangka panjang.

Kelima: Amankan asetmu. Backup seed phrase, aktifkan 2FA, gunakan hardware wallet untuk jumlah besar. Keamanan adalah tanggung jawab yang tidak bisa kamu delegasikan ke siapa pun.

Keenam: Take profit secara berkala. Tidak perlu menunggu sampai sempurna. Realisasikan sebagian keuntungan saat target sudah tercapai. Profit yang belum direalisasikan adalah profit di atas kertas โ€” belum menjadi uang nyata sampai kamu benar-benar jual.

Alokasi Aset Berdasarkan Profil Risiko

Tidak semua orang cocok dengan porsi crypto yang sama. Berikut gambaran umum berdasarkan profil risiko:

  • Konservatif: 90% aset aman (deposito, reksa dana pasar uang), 10% crypto (Bitcoin dan Ethereum saja)
  • Moderat: 70% aset aman, 30% crypto (sebagian besar Bitcoin dan Ethereum, sedikit altcoin top)
  • Agresif: 50% aset aman, 50% crypto (termasuk DeFi dan altcoin)
  • Sangat agresif: 100% crypto โ€” ini tidak direkomendasikan untuk siapa pun, apalagi pemula

Kapan Waktu yang Tepat untuk Keluar?

Take profit adalah keputusan yang bagus ketika kamu sudah mencapai target yang ditetapkan sejak awal, atau ketika kamu membutuhkan uang untuk keperluan mendesak.

Sebaliknya, jangan keluar hanya karena harga turun 20% dan kamu panik. Itu bukan alasan yang baik โ€” itu FOMO yang dibalik.

Apakah Crypto Masih Worth It Meski Risikonya Sebesar Ini?

Pertanyaan yang wajar. Dan jawabannya tidak hitam-putih.

Bitcoin yang dibeli di harga berapa pun pada tahun 2013 kini sudah menghasilkan return yang tidak terbayangkan โ€” lebih dari 100.000% dalam 10 tahun. Crypto telah terbukti menjadi salah satu aset dengan pertumbuhan tertinggi dalam satu dekade terakhir. Dan bagi mereka yang bisa masuk di posisi yang tepat dengan strategi yang benar, hasilnya bisa luar biasa.

Tapi di sisi lain, ada juga ribuan orang yang kehilangan semua uangnya di crypto โ€” karena scam, karena panic sell di titik terendah, karena exchange bangkrut, atau karena sialnya nasib.

Crypto cocok untuk kamu jika sudah punya dana darurat 6โ€“12 bulan, sudah punya investasi yang lebih aman sebagai fondasi, punya toleransi risiko yang tinggi dan tidak akan panik melihat portofolio turun 50%, dan bersedia meluangkan waktu untuk belajar sebelum terjun.

Crypto tidak cocok untuk kamu jika belum punya dana darurat, tidak tahan melihat nilai investasi turun drastis, mencari sumber passive income yang stabil, atau tidak mau berinvestasi waktu untuk belajar tentang teknologi dan risikonya.

Kesimpulan

Tujuh risiko utama yang kita bahas dalam artikel ini โ€” volatilitas ekstrem, kehilangan akses, scam dan rug pull, hack, regulasi, tidak adanya perlindungan konsumen, dan keputusan emosional โ€” semuanya nyata. Semuanya sudah memakan banyak korban. Dan semuanya terjadi tidak hanya di luar negeri, tapi juga di Indonesia.

Tapi ada hal yang perlu saya garis bawahi: semua risiko ini bisa dimitigasi. Tidak ada yang bisa menghilangkan risiko sepenuhnya dalam investasi apa pun โ€” termasuk crypto. Tapi dengan pemahaman yang benar, disiplin dalam menerapkan strategi, dan kerendahan hati untuk terus belajar, kamu bisa mengurangi kemungkinan menjadi korban secara signifikan.

Yang paling sering saya lihat adalah investor yang masuk ke crypto tanpa pemahaman yang cukup, tergerak oleh FOMO atau cerita sukses orang lain, kemudian mengalami kerugian dan menyimpulkan bahwa “crypto itu scam”. Padahal yang bermasalah bukan crypto-nya โ€” yang bermasalah adalah cara mereka masuk ke dalamnya.

Crypto bukan untuk semua orang. Tapi bagi mereka yang sudah siap โ€” secara finansial, mental, dan pengetahuan โ€” ini adalah salah satu aset yang paling menarik di era digital ini.

Edukasi adalah investasi terbaik yang bisa kamu lakukan sebelum mulai invest crypto. Dan semoga artikel ini jadi salah satu langkah awalnya.

Kalau kamu sudah siap untuk mulai, panduan pertama yang saya rekomendasikan adalah cara beli Bitcoin pertama kali di Indodax. Kalau belum punya akun, kamu juga bisa memulai di Tokocrypto dengan menggunakan kode referral PROFESOR untuk mendapatkan diskon biaya trading sebesar 20%.

Dan ingat: jangan pernah invest lebih dari yang sanggup kamu tanggung jika hilang. Hidup kamu harus tetap jalan, apa pun yang terjadi dengan portofolio crypto-mu.

FAQ

Apakah investasi crypto aman? Tidak ada investasi yang 100% aman, tapi crypto termasuk kategori high risk. Risikonya bisa direduksi dengan edukasi, diversifikasi, dan pengelolaan aset yang baik โ€” tapi tidak bisa dihilangkan sepenuhnya.

Berapa minimal invest di crypto? Di exchange seperti Indodax, kamu bisa mulai dari Rp10.000 saja. Untuk pemula, mulai kecil dulu sambil belajar adalah strategi yang bijak.

Crypto mana yang paling aman untuk pemula? Bitcoin dan Ethereum adalah dua crypto yang paling mapan dan paling luas digunakan. Keduanya jauh lebih aman dibandingkan altcoin yang baru diluncurkan atau token yang tidak jelas asal-usulnya.

Apakah Bitcoin bisa jadi nol? Secara teoritis, bisa. Tidak ada yang bisa menjamin sebuah aset tidak akan turun ke nol. Tapi Bitcoin sudah bertahan lebih dari 15 tahun dengan adopsi yang terus bertumbuh, membuatnya menjadi crypto yang paling kecil kemungkinannya untuk jadi nol โ€” dibandingkan ribuan altcoin lain yang sudah mati.

Bagaimana cara tahu apakah sebuah crypto adalah scam? Cari tahu siapa founder-nya, apakah ada working product yang bisa digunakan, baca whitepaper-nya, dan cek apa yang dibicarakan komunitas independen di Reddit atau Twitter. Jika ada janji profit yang tidak masuk akal, tim yang anonim, atau struktur MLM, itu red flag besar.

Lebih baik hold di exchange atau di wallet pribadi? Untuk pemula yang baru mulai, exchange yang terpercaya lebih mudah dikelola. Tapi untuk jumlah yang sudah signifikan dan untuk hold jangka panjang, pindahkan ke wallet pribadi agar kamu punya kontrol penuh atas asetmu.

Berapa lama idealnya hold crypto? Tidak ada jawaban yang pasti, tapi banyak investor sukses merekomendasikan minimal 1โ€“2 tahun, atau bahkan mengikuti siklus Bitcoin halving (sekitar 4 tahun). Semakin panjang jangka waktumu, semakin kecil pengaruh volatilitas jangka pendek terhadap hasilmu.

Apakah crypto halal? Ini adalah topik yang masih diperdebatkan di kalangan ulama. Berbagai lembaga fatwa sudah mengeluarkan pandangan yang berbeda-beda. Untuk jawaban yang tepat sesuai dengan keyakinanmu, konsultasikan dengan ulama yang memahami instrumen keuangan modern.

Bagaimana cara lapor pajak crypto? Setiap transaksi crypto di exchange yang terdaftar di Indonesia sudah secara otomatis dipotong pajak. Tapi kamu tetap memiliki kewajiban untuk melaporkannya dalam SPT Tahunan. Untuk detail lebih lanjut, konsultasikan dengan konsultan pajak atau kunjungi situs DJP Online.

Apakah crypto lebih menguntungkan dari saham? Secara historis, crypto (terutama Bitcoin) menghasilkan return yang lebih tinggi dari saham โ€” tapi dengan risiko yang jauh lebih besar juga. Saham blue chip yang bagus bisa memberikan dividen dan pertumbuhan yang lebih stabil. Keduanya bisa saling melengkapi dalam satu portofolio yang terdiversifikasi.

Disclaimer: Artikel ini murni untuk keperluan edukasi dan bukan nasihat investasi. Semua keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi pembaca. Lakukan riset sendiri (DYOR) dan konsultasikan dengan profesional keuangan sebelum mengambil keputusan investasi.

Tidak punya banyak waktu?
Minta AI untuk meringkas artikel ini

Perplexity Pro

Perplexity Pro
Rp 69.000

ChatGPT Pro

ChatGPT Pro
Rp 70.000

Gemini Ultra

Gemini Ultra
Rp 80.000

Samsung Galaxy A26 5G

Samsung Galaxy A26 5G
Rp 3.999.000

Senior "Hello world" programmer, coffee addict.