Opini Saya Mengenai Mac Setelah 2 Tahun Menggunakannya

Kurang lebih 2 tahun lalu saya akhirnya memutuskan untuk membeli Macbook karena laptop saya waktu itu sudah cukup usang untuk digunakan. Beberapa tombol di keyboard sudah tidak nyaman untuk digunakan, dan beberapa kerusakan fisik lainnya.

Akhirnya saya memesan sebuah Macbook Air di salah satu marketplace Indonesia.

Akhirnya sejak saat itu, Macbook Air menjadi perangkat produktivitas utama saya. Saya menggunakannya untuk menulis artikel, membuat postingan Instagram, atau sekedar menonton video musik Blackpink di YouTube.

Omong-omong, salah satu alasan kenapa saya memilih Macbook sebagai perangkat saya waktu itu adalah karena saya belum pernah menggunakannya. Saya penasaran apakah build quality-nya benar-benar sebagus yang dikatakan orang-orang?

Saya juga penasaran dengan macOS yang terkenal keindahannya itu.

Jadi, berikut ini adalah opini saya mengenai Macbook setelah 2 tahun menggunakannya.

Saya mulai dari build quality-nya terlebih dahulu ya. Menurut saya build quality-nya memang benar-benar bagus, seperti yang dikatakan oleh orang-orang.

Ketika saya tekan-tekan di berbagai sisi, tidak ada yang “ambles”, menandakan bahwa tidak ada bagian yang “kopong” di dalam laptop ini. Bagian layarnya ketika saya coba gerak-gerakkan juga tidak terlalu lentur.

Saya juga suka dengan kebiasaan Apple yang tidak pernah menempelkan stiker pada laptop buatannya. Ini membuat laptop menjadi terlihat bersih dan elegan.

Keyboard di Mac juga juara. Ini merupakan keyboard terbaik yang pernah saya gunakan di sebuah laptop. Jarak antar tombolnya benar-benar pas, nyaman untuk digunakan mengetik dalam waktu lama. Apa lagi saya adalah seorang blogger, jadi mengetik adalah pekerjaan utama saya.

Jangan lupakan tombol power yang ada di sudut kanan atas keyboard. Selain dapat digunakan untuk menghidupkan laptop, tombol tersebut juga berfungsi sebagai tombol Touch ID untuk memverifikasi identitas ketika kita ingin mengunduh dan membeli aplikasi dari App Store, atau ketika ingin membuka beberapa fitur yang membutuhkan otentikasi.

Touchpad di Mac juga nyaman digunakan. Ukurannya lebih besar dibandingkan beberapa laptop lain yang pernah saya coba. Posisinya pas berada ditengah, sehingga dapat dijangkau dengan mudah oleh kedua tangan.

Dan ini mungkin menjadi salah satu fitur yang paling saya sukai di Macbook, yaitu fitur gestur touchpad. Saya dapat menggunakan usapan tiga jari untuk menampilkan seluruh aplikasi yang sedang terbuka, kemudian meng-klik salah satunya untuk membukanya.

Fitur ini sangat membantu produktivitas, terutama ketika sedang membuka beberapa aplikasi sekaligus. Ketika sedang browsing, juga juga dapat menggunakan gestur usap dua jari untuk kembali ke halaman sebelumnya atau maju ke halaman berikutnya.

Layarnya juga memiliki tampilan yang bagus. Seluruh warna tampila dengan cerah di layar Macbook Air saya. Ketika dilihat dari berbagai sisi pun, warnanya tidak berubah.

Ok, sekarang kita masuk ke bagian software, terutama macOS-nya itu sendiri yang menjadi nyawa dari laptop ini. macOS dilengkapi dengan banyak sekali fitur bawaan yang sangat berguna, jadi saya tidak perlu mengunduh aplikasi-aplikasi pihak ketiga.

Sebagai contoh, untuk mengambil screenshot dan merekam layar di macOS, saya hanya perlu mengandalkan QuickTime Player yang merupakan aplikasi bawaan.

Sampai saat ini, saya tidak pernah menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk urusan ambil mengambil screenshot dan merekam layar. Semuanya saya lakukan menggunakan aplikasi bawaan macOS tersebut.

Saya juga sangat suka dengan fitur edit screenshot seperti untuk menambahkan tanda panah, lingkaran, kotak dan lain-lain. Ini biasa saya gunakan ketika mengedit screenshot yang akan saya pasang pada artikel di Androbuntu.

Browser default macOS, yaitu Safari, saya juga menyukainya. Simpel dan bersih dan yang jelas, tidak berbasis Chromium.

Bukannya saya tidak suka dengan browser berbasis Chromium, hanya saja sudah bosan dan ingin menggunakan browser yang benar-benar baru. Dan Safari menurut saya cukup keren sebagai sebuah browser default.

Sayangnya ketersediaan ekstensi untuk Safari masih sangat terbatas. Masih banyak ekstensi populer yang belum tersedia di Safari. Saya harap di kemudian hari makin banyak yang mengembangkan ekstensi untuk browser ini.

Untuk urusan tampilan, macOS memang juaranya. Tampilannya menurut saya jauh lebih estetik dibandingkan Windows 10 dan beberapa Distro Linux yang pernah saya coba.

Saya menggunakan Macbook Air varian 128GB/8GB. Untuk penyimpanan, saya tidak pernah mendapatkan masalah karena file besar biasanya saya simpan di cloud.

Sedangkan untuk RAM, juga hampir tidak pernah ada masalah. Biasanya masalah baru akan datang ketika saya membuka terllau banyak tab di Chromium. Itu pun sangat jarang.

Secara keseluruhan, saya sangat puas menggunakan Macbook Air dalam 2 tahun belakangan ini. Baik dari segi hardware mau pun software.

Pemikir, cowok rumahan.