November 2021. Bitcoin menyentuh harga Rp1 miliar per koin. Media ramai, semua orang bicara soal crypto, dan para influencer berteriak “to the moon!” di mana-mana.
November 2022. Harga Bitcoin rontok ke Rp250 juta — turun 75% hanya dalam setahun. Panic sell di mana-mana, dan headline media berubah menjadi “Bitcoin is dead” — untuk ke sekian ratus kalinya.
Maret 2024. Bitcoin rally lagi, bahkan melewati Rp1,1 miliar. Cycle berulang.
Kalau kamu baru masuk ke dunia crypto dan melihat grafik harga Bitcoin yang naik-turun seperti roller coaster, wajar sekali kalau kamu bingung. Kenapa harganya tidak stabil seperti emas atau mata uang biasa? Kenapa bisa turun 20% dalam sehari, lalu naik 15% keesokan harinya?
Di artikel ini, saya akan jelaskan 7 faktor utama yang membuat harga Bitcoin bergerak seliar ini. Saya juga akan jawab pertanyaan yang sering muncul: apakah volatilitas ini normal? Dan apakah akan berkurang di masa depan?
Baca juga: Apa itu Bitcoin? Ini penjelasan sederhana untuk para pemula
Apa Itu Volatilitas?
Sebelum masuk ke faktor-faktornya, kita perlu sepakati dulu apa yang dimaksud dengan volatilitas.
Volatilitas adalah ukuran seberapa besar dan seberapa cepat harga suatu aset berubah. High volatility berarti harga bisa swing besar dalam waktu singkat. Low volatility berarti harga relatif stabil dari hari ke hari.
Bandingkan saja beberapa aset berikut:
| Aset | Volatilitas per Tahun | Contoh Swing |
|---|---|---|
| Deposito Bank | ~0% | Rp100 juta → Rp100 juta (stabil) |
| Emas | 10–15% | Rp100 juta → Rp85–115 juta |
| Saham Blue-Chip | 15–25% | Rp100 juta → Rp75–125 juta |
| Saham Volatile | 30–50% | Rp100 juta → Rp50–150 juta |
| Bitcoin | 60–100%+ | Rp100 juta → bisa Rp0–300 juta |
Baris terakhir itu yang bikin banyak orang bergidik sekaligus tergiur. Volatilitas Bitcoin bukan sekadar tinggi — ia berada di level yang berbeda dibanding aset lain manapun.
Secara historis, Bitcoin pernah naik dari Rp13 juta ke Rp260 juta dalam setahun (2017), lalu turun kembali ke Rp50 juta. Kemudian naik lagi dari Rp100 juta ke Rp1 miliar (2020–2021), lalu anjlok ke Rp250 juta. Dalam satu hari saja, naik atau turun 10–20% itu hal yang lumrah.
Ini bukan bug — ini adalah konsekuensi dari beberapa faktor yang akan saya jelaskan satu per satu.
Faktor #1: Market Cap Bitcoin Masih Relatif Kecil
Ini adalah akar dari segalanya, dan sering kali tidak disadari oleh investor pemula.
Market cap Bitcoin saat ini sekitar $1,3 triliun. Angka itu memang terdengar besar. Tapi coba bandingkan dengan aset lain:
- Market cap emas: sekitar $13 triliun (10x lebih besar dari Bitcoin)
- Stock market global: sekitar $100 triliun (77x lebih besar)
- Properti global: sekitar $330 triliun (254x lebih besar)
Bayangkan Bitcoin seperti kolam kecil, sedangkan emas seperti samudra. Kalau kamu melempar batu ke kolam kecil, airnya akan beriak besar. Tapi batu yang sama dilempar ke samudra? Hampir tidak ada efeknya.
Artinya: uang $1 miliar yang masuk ke Bitcoin bisa menggerakkan harga 5–10%. Jumlah yang sama masuk ke market emas? Hampir tidak ada pengaruhnya, karena terlalu kecil relatif terhadap total pasar.
Ini juga yang membuat gerakan para whale — investor besar yang memegang ribuan Bitcoin — bisa langsung menggerakkan pasar. Data menunjukkan bahwa 1% holder teratas Bitcoin memegang sekitar 27% dari total supply. Ketika mereka beli atau jual dalam jumlah besar, harga ikut bergerak signifikan.
Kabar baiknya: seiring market cap Bitcoin terus tumbuh, volatilitasnya akan perlahan berkurang. Tapi itu butuh waktu puluhan tahun.
Faktor #2: Supply Terbatas vs Demand yang Fluktuatif
Bitcoin dirancang dengan supply maksimum 21 juta koin — jumlah ini tidak bisa ditambah, sudah dikode langsung di protokolnya. Saat ini sekitar 19,6 juta Bitcoin sudah di-mining, dan supply baru yang masuk ke pasar hanya sekitar 900 BTC per hari.
Supply Bitcoin: dapat diprediksi, tetap, tidak berubah.
Demand Bitcoin: tidak dapat diprediksi sama sekali.
Demand dipengaruhi oleh sentimen pasar, adopsi institusi, regulasi dari pemerintah, kondisi ekonomi global, bahkan tweet dari satu orang. Ketika banyak orang ingin membeli (bull market), demand melonjak. Ketika semua orang ingin menjual (bear market), demand terjun bebas.
Ketika supply tetap bertemu demand yang naik drastis — harga meledak. Ketika demand runtuh — harga ikut runtuh. Inilah ekonomi dasar paling sederhana, dan Bitcoin mengalaminya dalam skala ekstrem.
Ada satu mekanisme unik yang memperparah ini: halving. Setiap empat tahun sekali, reward untuk para miner Bitcoin dipotong 50%, sehingga supply baru berkurang drastis. Secara historis, setiap halving selalu diikuti bull market besar 12–18 bulan kemudian:
- Halving 2012 → Bull market 2013
- Halving 2016 → Bull market 2017
- Halving 2020 → Bull market 2021
- Halving 2024 → Bull market 2025?
Supply shock dari halving + demand yang tetap atau naik = harga yang bisa melompat sangat tinggi dalam waktu singkat.
Faktor #3: Trading 24/7 Tanpa Circuit Breaker
Pasar saham konvensional memiliki jam buka. Bursa Efek Indonesia tutup setiap hari Senin–Jumat pukul 15.30, dan tidak buka di weekend. Lebih dari itu, ada mekanisme circuit breaker — ketika harga saham turun lebih dari batas tertentu, perdagangan dihentikan sementara untuk mencegah panic sell yang tidak terkendali.
Pasar crypto? Buka 24 jam, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Tidak ada circuit breaker. Tidak ada cooling-off period.
Artinya: berita buruk yang keluar Sabtu malam langsung memicu panic sell — tidak perlu menunggu Senin pagi. Flash crash bisa terjadi kapan saja tanpa ada mekanisme penghenti.
Ada satu faktor yang memperparah ini: leverage trading. Di pasar crypto, trader bisa menggunakan leverage 10x, 50x, bahkan 100x. Dengan leverage 10x, modal Rp1 juta bisa mengontrol posisi senilai Rp10 juta. Ketika harga bergerak 5% ke arah yang salah, kerugiannya bisa 50%.
Yang lebih berbahaya adalah efek berantainya. Ketika harga turun dan banyak posisi leveraged kena liquidation, sistem otomatis langsung menjual Bitcoin mereka — menekan harga lebih jauh, memicu liquidation lebih banyak lagi, dan seterusnya. Satu flash crash bisa menghasilkan $500 juta hingga $1 miliar liquidation dalam satu hari.
Faktor #4: Didorong Sentimen, Bukan Fundamental
Ini salah satu perbedaan terbesar antara Bitcoin dan saham.
Kalau kamu membeli saham sebuah perusahaan, ada fundamental yang bisa dievaluasi: pendapatan, keuntungan, price-to-earnings ratio, dividen. Ada laporan keuangan kuartalan. Ada analis yang bisa menghitung “harga wajar” suatu saham.
Bitcoin tidak punya itu semua. Tidak ada pendapatan, tidak ada dividen, tidak ada laporan keuangan. Harganya sebagian besar ditentukan oleh narasi dan sentimen.
Ketika narasi positif sedang kuat — “Bitcoin adalah emas digital”, “lindung nilai dari inflasi”, “masa depan uang” — permintaan naik dan harga ikut naik. Ketika narasi negatif muncul — “Bitcoin hanyalah spekulasi”, “pemerintah akan melarang” — permintaan turun dan harga anjlok.
Beberapa contoh nyata:
- Tesla mengumumkan beli Bitcoin senilai $1,5 miliar (Februari 2021) → BTC naik 20% dalam satu hari
- China melarang mining crypto (Mei 2021) → BTC turun 30%
- FTX kolaps (November 2022) → BTC turun 20%
- SEC menyetujui Bitcoin ETF (Januari 2024) → BTC rally lebih dari 50%
Yang lebih ekstrem: satu tweet dari Elon Musk bisa menggerakkan harga Bitcoin 10–15%. Ini mencerminkan betapa pasar Bitcoin masih didominasi oleh emosi, bukan analisis. FOMO (fear of missing out) dan FUD (fear, uncertainty, doubt) adalah driver utama pergerakan harga.
Baca juga: Risiko Investasi Crypto yang Jarang Dibahas — kalau kamu ingin tahu lebih dalam soal bagaimana sentimen ini bisa menjebak investor.
Faktor #5: Ketidakpastian Regulasi
Bayangkan kamu berinvestasi di bisnis yang setiap bulannya bisa tiba-tiba dilarang oleh pemerintah. Itulah yang dirasakan oleh investor Bitcoin setiap harinya.
Crypto masih berada di grey area di banyak negara. Tidak ada konsensus global soal bagaimana mengaturnya — setiap negara punya pendekatan berbeda, dari yang melarang penuh hingga yang merangkulnya sebagai alat pembayaran resmi.
Ketidakpastian ini sendiri sudah menjadi sumber volatilitas. Setiap rumor regulasi — bahkan yang belum resmi — langsung memicu reaksi pasar:
- India propose larangan crypto (2021): hanya rumor saja, tapi pasar langsung panik
- China larang mining (2021): hash rate Bitcoin turun 50%, harga ikut jatuh
- BlackRock dan Fidelity dapat persetujuan Bitcoin ETF dari SEC (2024): harga rally signifikan
- Uni Eropa mengesahkan regulasi MiCA (2024): kepercayaan institusi naik
Selama belum ada kerangka regulasi yang jelas dan konsisten secara global, setiap pengumuman dari pemerintah manapun bisa mengejutkan pasar kapan saja. Volatilitas akibat faktor ini tidak akan hilang dalam waktu dekat.
Faktor #6: Faktor Ekonomi Makro
Bitcoin tidak hidup dalam gelembung. Ia dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, sama seperti aset lainnya.
Secara historis, Bitcoin berkorelasi cukup kuat dengan pasar saham — khususnya saham teknologi. Ketika kondisi ekonomi bagus dan investor berani mengambil risiko (risk-on environment), Bitcoin cenderung naik. Ketika ada ketakutan resesi dan investor mencari keamanan (risk-off environment), Bitcoin ikut turun.
Contoh yang paling jelas: ketika pandemi COVID-19 meledak pada Maret 2020, Bitcoin turun hampir 50% dalam sebulan — bersamaan dengan pasar saham global. Tapi kemudian stimulus ekonomi besar-besaran dari pemerintah AS memunculkan narasi “Bitcoin sebagai lindung nilai dari inflasi”, mendorong harga rally besar selama 2020–2021.
Lalu pada 2022, ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga untuk melawan inflasi, pasar saham turun — dan Bitcoin ikut turun lebih dari 75%, meski inflasi sedang tinggi. Ini menunjukkan bahwa Bitcoin tidak selalu berperilaku sebagai inflation hedge seperti yang banyak orang bayangkan.
Ada juga pengaruh dari nilai Dolar AS. Ketika Dolar menguat, Bitcoin cenderung melemah — dan sebaliknya. Ini karena Bitcoin mayoritas diperdagangkan dalam USD, sehingga penguatan Dolar membuat Bitcoin relatif lebih “mahal” bagi pembeli dari luar Amerika.
Faktor #7: Liquidity Rendah di Waktu Tertentu
Liquidity adalah kemudahan untuk membeli atau menjual suatu aset tanpa menggerakkan harganya terlalu jauh. Pasar dengan liquidity tinggi punya banyak pembeli dan penjual, sehingga transaksi besar pun tidak terlalu mempengaruhi harga.
Masalahnya, liquidity Bitcoin tidak konsisten sepanjang waktu.
Di akhir pekan dan hari libur, institusi-institusi besar tidak aktif bertransaksi. Volume perdagangan bisa turun 30–50%, dan retail trader yang mendominasi — kelompok yang lebih rentan terhadap emosi dan keputusan impulsif. Ini adalah waktu paling mudah bagi whale untuk menggerakkan harga.
Di bear market, volume keseluruhan turun, liquidity menipis, dan volatilitas justru semakin tinggi.
Yang paling berbahaya adalah ketika whale melakukan penjualan besar di pasar yang liquidity-nya sedang rendah. Order book yang tipis tidak bisa menyerap tekanan jual, harga langsung terjun, memicu liquidation posisi leveraged, dan efek berantai berlanjut. Inilah resep untuk flash crash.
Apakah Volatilitas Bitcoin Akan Berkurang?
Kabar baiknya: ya, secara perlahan.
Data historis menunjukkan tren penurunan volatilitas Bitcoin dari waktu ke waktu. Di tahun 2013–2014, volatilitas tahunannya mencapai 100–150%. Di 2020–2021, turun ke kisaran 60–80%. Saat ini berada di sekitar 50–70%.
Faktor yang membantu mengurangi volatilitas:
- Market cap yang terus bertambah → lebih sulit digerakkan
- Adopsi institusi → holder yang lebih stabil dan tidak mudah panic sell
- Infrastruktur yang lebih baik (ETF, solusi custody institusi)
- Regulasi yang semakin jelas (setidaknya di beberapa negara)
Tapi harap realistis: Bitcoin tidak akan pernah sestabil emas atau Rupiah dalam waktu dekat. Volatilitasnya mungkin akan turun dari 70% ke 50%, lalu ke 30% — dalam rentang puluhan tahun. Tapi ia akan tetap jauh lebih volatile dibanding saham blue-chip atau emas.
Perlu diingat juga: 24/7 trading tidak akan hilang, sifat sentiment-driven akan tetap ada, dan halving akan terus terjadi setiap empat tahun. Semua itu menjaga volatilitas tetap tinggi relatif terhadap aset tradisional.
Bagaimana Investor Pemula Harus Menyikapi Volatilitas?
Sekarang bagian yang paling penting: apa yang harus kamu lakukan dengan semua informasi ini?
Mindset yang perlu dibangun:
Pertama, volatilitas itu normal di dunia crypto. Bitcoin turun 20% dalam seminggu bukan berarti “crash” — itu hal biasa yang terjadi 3–5 kali dalam setahun. Jangan biarkan pergerakan jangka pendek mendikte keputusan jangka panjang kamu.
Kedua, perbesar perspektifmu. Grafik harian itu penuh “kebisingan”. Coba lihat grafik mingguan atau bulanan — tren jangka panjang jauh lebih jelas dari sana.
Ketiga, volatilitas bisa menjadi peluang — kalau kamu punya strategi yang jelas dan tidak bergerak berdasarkan emosi.
Yang sebaiknya dilakukan:
Dollar Cost Averaging (DCA) adalah strategi paling sederhana dan paling efektif untuk pemula. Caranya: beli Bitcoin dalam jumlah yang sama setiap bulan, terlepas dari kondisi harga. Kadang kamu beli di harga tinggi, kadang di harga rendah — tapi rata-rata harga belimu akan lebih seimbang dibanding mencoba menebak kapan harga di titik terendah.
Tentukan juga time horizon yang jelas. Kalau kamu beli Bitcoin dengan ekspektasi untung dalam 1–3 bulan, kamu sedang berjudi — bukan berinvestasi. Idealnya, pikirkan minimal satu siklus penuh (sekitar 4 tahun).
Yang terakhir, dan ini serius: cobalah untuk tidak mengecek harga setiap hari. Semakin sering kamu melihat angka merah, semakin besar godaan untuk panic sell di waktu yang paling buruk.
Yang sebaiknya dihindari:
Jangan panic sell hanya karena harga turun 20%. Itu normal. Jangan all-in hanya karena harga baru saja naik 30% — itu bisa saja puncaknya. Dan jangan pernah berinvestasi lebih dari yang sanggup kamu rugi.
Kalau kamu ingin mulai beli Bitcoin, kamu bisa membaca panduan lengkapnya di artikel Tutorial beli Bitcoin pertama kali di Indodax untuk pemula. Untuk pertimbangan memilih exchange, ada juga perbandingan lengkap di artikel Indodax vs Tokocrypto vs Pintu: Mana exchange terbaik untuk pemula?
FAQ
Apakah Bitcoin bisa turun sampai nol?
Secara teori memungkinkan. Secara praktis, sangat tidak mungkin. Bitcoin sudah bertahan lebih dari 15 tahun dan melewati ratusan prediksi kematian. Selama ada demand dan jaringannya tetap berjalan, harga tidak akan nol.
Kenapa harga Bitcoin bisa beda di setiap exchange?
Karena masing-masing exchange memiliki pasar tersendiri. Perbedaan harga biasanya kurang dari 1–2%, dan para arbitrage trader akan menyeimbangkannya dengan cepat.
Apakah volatilitas Bitcoin berbahaya?
Tergantung cara kamu menggunakannya. Berbahaya jika kamu berinvestasi lebih dari yang sanggup kamu rugi, punya mindset jangka pendek, atau menggunakan leverage. Lebih aman jika kamu hold jangka panjang, diversifikasi portofolio, dan hanya menggunakan “uang dingin”.
Kapan waktu terbaik untuk beli Bitcoin?
Tidak ada yang tahu. Itulah kenapa strategi DCA lebih masuk akal dibanding mencoba timing pasar.
Apakah Bitcoin akan naik lagi setelah turun drastis?
Secara historis, Bitcoin selalu pulih dan mencapai all-time high baru. Tapi performa masa lalu tidak menjamin masa depan. Tidak ada yang bisa tahu dengan pasti.
Kenapa Bitcoin lebih volatile dari altcoin?
Justru sebaliknya. Bitcoin adalah crypto yang paling tidak volatile. Altcoin jauh lebih liar — bisa swing 50–200% dalam satu hari.
Bagaimana cara melindungi diri dari volatilitas?
Empat cara paling efektif: DCA rutin, hold jangka panjang (minimal setahun), diversifikasi portofolio, dan hanya invest apa yang sanggup kamu relakan.
Kesimpulan
Volatilitas Bitcoin bukan sesuatu yang akan hilang dalam waktu dekat. Ini adalah konsekuensi alami dari aset digital yang masih relatif muda, dengan market cap yang terus berkembang, adopsi yang masih berlangsung, dan pasar yang beroperasi 24/7 tanpa rem.
Tujuh faktor yang mendorong volatilitas ini — ukuran pasar yang masih kecil, supply tetap vs demand fluktuatif, trading tanpa henti, sifat sentiment-driven, ketidakpastian regulasi, pengaruh ekonomi makro, dan liquidity yang tidak merata — semuanya saling terkait dan memperkuat satu sama lain.
Tapi ada satu hal yang perlu diingat: volatilitas adalah dua sisi mata uang yang sama. Itulah yang membuat Bitcoin bisa memberikan return yang tidak mungkin didapat dari deposito atau emas. Tanpa volatilitas, tidak ada peluang profit besar.
Sebagai investor pemula, jangan takut pada volatilitas — tapi hormati dia. Pahami apa yang kamu beli, gunakan strategi yang disiplin, dan berpikirlah dalam skala tahun, bukan hari.
Dalam jangka pendek, Bitcoin adalah mesin pemungutan suara (sentimen pasar). Dalam jangka panjang, Bitcoin adalah mesin penimbang (adopsi dan fundamental). Fokuslah pada jangka panjang.
