Ketika pertama kali mencoba ChatGPT beberapa tahun lalu, saya pikir ini akan jadi alat ajaib yang langsung paham apa yang saya butuhkan. Ternyata tidak sesederhana itu.
Saya melakukan banyak kesalahan di awal. Kesalahan-kesalahan ini membuat hasil yang saya dapatkan dari ChatGPT jadi kurang maksimal. Bahkan kadang malah bikin frustasi karena hasilnya jauh dari harapan.
Untungnya, setelah beberapa minggu mencoba dan mencoba lagi, saya mulai paham pola yang benar. Dan sekarang, ChatGPT sudah jadi bagian penting dalam pekerjaan saya sehari-hari.
Di artikel ini, saya akan bagikan kesalahan-kesalahan yang saya lakukan waktu pertama kali pakai ChatGPT. Semoga dengan membaca pengalaman saya ini, kamu bisa menghindari kesalahan yang sama dan langsung bisa memaksimalkan potensi AI sejak awal.
Baca juga: 10 contoh AI yang tanpa sadar kamu gunakan setiap hari, nomor 4 paling berguna
Mengira ChatGPT bisa membaca pikiran saya
Ini kesalahan paling fundamental yang saya lakukan. Saya kira ChatGPT itu seperti manusia yang bisa menangkap konteks dan maksud saya hanya dari beberapa kata saja.
Waktu itu saya cuma nulis “buatkan artikel tentang teknologi”. Terus saya kecewa karena hasilnya terlalu umum dan tidak spesifik. Padahal di pikiran saya, saya sudah punya gambaran jelas tentang artikel seperti apa yang saya mau.
Faktanya, ChatGPT tidak tahu apa yang ada di kepala kita. Dia cuma bisa bekerja berdasarkan informasi yang kita berikan lewat prompt. Tidak ada teknologi telepati di sini.
Kalau kita hanya memberikan instruksi singkat dan umum, ya hasilnya juga akan singkat dan umum. Ini berlaku untuk semua AI, bukan cuma ChatGPT. Bahkan Google Gemini atau Claude pun sama.
Terlalu malas memberikan instruksi yang detail
Kesalahan ini sebenarnya masih berhubungan dengan poin sebelumnya. Karena saya pikir ChatGPT bisa paham maksud saya, jadinya saya malas nulis prompt yang panjang.
Saya cuma menuliskan satu atau dua kalimat pendek. Kadang malah cuma beberapa kata. Ironisnya saya berharap ChatGPT bisa menghasilkan sesuatu yang detail sesuai bayangan saya.
Hasilnya? Selalu mengecewakan. ChatGPT memberikan jawaban yang sangat sederhana. Tidak ada keunikan, tidak ada personalisasi, benar-benar jauh dari yang saya harapkan.
Hasilnya baru benar-benar terasa berbeda dan sesuai keinginan ketika saya mulai memberikan prompt yang detail. Saya mulai belajar untuk menuliskan konteks, tujuan, format yang saya inginkan, bahkan gaya bahasa yang saya mau.
Menulis prompt yang rinci memang butuh waktu lebih lama. Tapi percayalah, waktu yang kita habiskan untuk menulis prompt yang baik akan terbayar dengan hasil yang jauh lebih memuaskan.
Hindari menulis prompt yang singkat dan berharap hasil maksimal. Tujuan kamu awalnya mungkin untuk menghemat waktu, tapi percayalah, ini justru buang-buang waktu.
Menggunakan ChatGPT layaknya Google
Di awal-awal, saya memperlakukan ChatGPT layaknya mesin pencari seperti Google, Bing dan DuckDuckGo. Saya hanya mengetik pertanyaan pendek, tekan enter, dan berharap dapat jawaban langsung.
Contohnya seperti ini: “cara membuat website”. Atau “resep nasi goreng”. Singkat, langsung ke inti, seperti ketika kita mencari sesuatu di Google.
Faktanya, ChatGPT bukanlah mesin pencari seperti Google. Google akan memberikan kita daftar tautan ke berbagai website. Sedangkan ChatGPT akan menghasilkan jawaban langsung berdasarkan pemahamannya.
Jika kita menggunakan ChatGPT dengan cara yang sama seperti Google, tapi mengharapkan hasil yang berbeda, tentu ini sebuah kekeliruan. Hasilnya pasti akan mengecewakan.
Setelah saya paham bedanya, saya mulai mengubah pendekatan. Saya mulai memberikan konteks lebih banyak. Saya mulai menjelaskan situasi saya, apa yang sudah saya coba, apa yang belum berhasil.
Dengan pendekatan seperti ini, ChatGPT bisa memberikan jawaban yang lebih personal dan sesuai dengan kebutuhan spesifik saya. Bukan jawaban generic yang bisa kita temukan di mana saja.
Namun jangan salah paham, ada kalanya kita juga dapat menggunakan ChatGPT untuk hal-hal simpel layaknya Google. Contohnya, saya masih sering menanyakan harga Bitcoin hari ini, ada berita apa saja di Indonesia hari ini, dan semacamnya. Semuanya masih menggunakan prompt yang sederhana.
Tidak memberikan batasan yang jelas
Kesalahan lain yang cukup sering saya lakukan adalah tidak memberitahu ChatGPT apa yang tidak boleh dia lakukan. Saya cuma fokus bilang apa yang saya mau, tanpa kasih tahu apa yang tidak saya mau.
Akibatnya, ChatGPT kadang terlalu kreatif ke arah yang tidak saya inginkan. Dia menambahkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Atau menggunakan gaya bahasa yang tidak cocok dengan brand voice saya.
Contohnya waktu saya minta ChatGPT buatkan caption Instagram. Saya cuma bilang “buatkan caption untuk foto makanan”. Hasilnya? Caption yang penuh emoji dalam jumlah berlebihan. Padahal brand saya lebih minimalis dan profesional.
Setelah kejadian itu, saya mulai belajar untuk memberikan batasan. Saya mulai menambahkan instruksi seperti “jangan gunakan emoji yang terlalu banyak”, “hindari bahasa yang terlalu kasual”, atau “jangan lebih dari 3 paragraf”.
Memberikan batasan yang jelas ini membantu ChatGPT untuk tetap fokus dan menghasilkan output yang benar-benar sesuai dengan yang kita butuhkan. Tidak terlalu liar tapi juga tidak terlalu kaku.
Mengira ChatGPT bisa melakukan semuanya sendirian
Ini kesalahan yang bikin saya buang-buang waktu cukup lama. Saya pikir ChatGPT itu bisa melakukan semua pekerjaan dari A sampai Z tanpa campur tangan saya sama sekali.
Waktu itu saya minta ChatGPT buatkan strategi konten media sosial untuk satu bulan penuh. Saya harap dia bisa langsung kasih hasil final yang tinggal saya gunakan.
Kenyataannya tidak seperti itu. Output dari ChatGPT masih perlu kita review, edit, dan sesuaikan dengan konteks kita. ChatGPT tidak tahu detail bisnis kita, tidak tahu target audience kita secara mendalam, tidak tahu tone of voice yang pas.
Jadi hasil dari ChatGPT itu sebaiknya diperlakukan sebagai draft awal. Bukan hasil final yang langsung bisa digunakan begitu saja.
Setelah saya paham ini, workflow saya jadi lebih efisien. Saya menggunakan ChatGPT untuk menghasilkan ide-ide awal, outline, atau draft kasar. Lalu saya yang akan mengembangkan, menyesuaikan, dan memfinalisasi.
Dengan cara seperti ini, saya bisa memanfaatkan kecepatan dan kreativitas ChatGPT, sambil tetap mempertahankan sentuhan personal dan kesesuaian dengan brand saya.
Prompt yang terlalu simpel dan berharap hasil sempurna
Kesalahan terakhir yang sangat sering saya lakukan di awal adalah menggunakan prompt yang terlalu simpel tapi berharap mendapatkan hasil yang kompleks dan sempurna.
Misalnya saya cuma nulis “buatkan logo” atau “buatkan presentasi”. Tanpa memberikan detail apapun tentang warna, gaya, target audience, atau elemen-elemen penting lainnya.
Hasilnya bisa ditebak. Outputnya selalu dangkal dan tidak mencerminkan identitas brand atau tujuan yang sebenarnya saya inginkan.
Sekarang, kalau saya minta ChatGPT untuk membantu sesuatu, saya selalu memberikan konteks sebanyak mungkin. Saya jelaskan siapa target audiencenya, apa tujuannya, gaya seperti apa yang saya mau, bahkan kadang saya kasih contoh referensi.
Untuk kamu yang ingin belajar membuat prompt yang lebih baik, coba lihat beberapa contoh prompt yang sudah terbukti efektif. Pelajari strukturnya, pelajari detail apa saja yang diberikan.
Dengan memberikan prompt yang detail dan spesifik, hasil dari ChatGPT akan jauh lebih mendekati apa yang kita bayangkan. Dan kita akan menghemat waktu karena tidak perlu bolak-balik revisi berkali-kali.
Pelajaran yang saya ambil dari semua kesalahan ini
Setelah melewati semua kesalahan di atas, ada beberapa hal penting yang saya pelajari tentang cara menggunakan ChatGPT dengan benar. Pertama, ChatGPT adalah alat yang sangat powerful, tapi dia butuh panduan yang jelas dari kita. Semakin detail instruksi yang kita berikan, semakin baik hasilnya.
Kedua, jangan perlakukan ChatGPT seperti mesin pencari. Dia adalah asisten yang perlu konteks dan arahan yang spesifik untuk bisa membantu kita dengan maksimal.
Ketiga, selalu review dan sesuaikan output dari ChatGPT. Jangan langsung pakai mentah-mentah tanpa ada sentuhan personal dari kita.
Keempat, berikan batasan yang jelas. Kasih tahu tidak hanya apa yang kita mau, tapi juga apa yang tidak kita mau.
Kelima, bersabarlah dalam proses belajar. Tidak ada yang langsung jago menggunakan ChatGPT dari hari pertama. Butuh trial and error untuk menemukan pola prompt yang cocok dengan kebutuhan kita.
Kalau kamu baru mulai belajar AI, jangan berkecil hati kalau hasil awalnya tidak sesuai harapan. Itu normal. Semua orang pasti melewati fase itu. Yang penting adalah terus belajar dan terus bereksperimen. Coba berbagai macam prompt, lihat hasilnya, evaluasi apa yang kurang, terus perbaiki.
Seiring waktu, kamu akan mulai paham pola-pola yang efektif. Kamu akan tahu kapan harus memberikan detail lebih banyak, kapan harus memberikan contoh, kapan harus memberikan batasan.
Dan pada akhirnya, ChatGPT akan benar-benar menjadi asisten yang sangat membantu dalam pekerjaan sehari-hari. Bukan cuma alat yang bikin frustasi karena tidak pernah memberikan hasil yang kita mau.
Semua kesalahan yang saya lakukan di awal sebenarnya adalah bagian dari proses pembelajaran. Tanpa kesalahan-kesalahan itu, saya tidak akan paham cara menggunakan ChatGPT dengan benar seperti sekarang. Jadi kalau kamu juga melakukan kesalahan serupa, jangan khawatir. Itu artinya kamu sedang dalam proses belajar yang benar.
