Jangan ditiru! Ini 5 kesalahan yang saya lakukan saat pertama kali menggunakan Gemini

Saat pertama kali menggunakan Gemini, saya pikir cukup ketik pertanyaan, tekan enter, dan semua pekerjaan akan beres dengan sendirinya. Ternyata tidak semudah itu.

Saya menghabiskan berminggu-minggu mendapatkan hasil yang biasa-biasa saja dari Gemini. Bukan karena Gemini-nya yang kurang canggih, tapi karena saya yang belum tahu cara menggunakannya dengan benar.

Setelah berbulan-bulan trial-error, saya akhirnya paham dimana letak kesalahan saya. Karenanya, saya akan ceritakan semuanya di artikel ini. Siapa tahu ada diantara kalian yang juga baru mulai menggunakan Gemini dan sedang mengalami hal yang sama.

Baca juga: ChatGPT vs Gemini vs Claude: Pengalaman mencari yang terbaik

Memberikan prompt yang terlalu singkat

Ini adalah kesalahan pertama dan paling sering saya lakukan. Dulu, saya cuma menulis prompt seperti “buatkan deskripsi video YouTube” tanpa memberikan konteks apapun. Tidak ada informasi soal target audiens, tidak ada tone yang diinginkan, tidak ada panjang deskripsi yang diharapkan.

Hasilnya? Tidak spesifik. Deskripsi yang diberikan Gemini terasa seperti ditulis untuk semua orang, yang artinya tidak cocok untuk siapa-siapa. Tidak ada sentuhan personal, tidak ada kalimat yang benar-benar sesuai dengan karakter channel saya.

Setelah belajar dari kesalahan ini, sekarang saya selalu memberikan detail yang jelas di setiap prompt. Alih-alih menulis “buatkan deskripsi video YouTube”, sekarang prompt saya kurang lebih seperti ini:

Buatkan deskripsi untuk video YouTube saya tentang cara menggunakan Gemini untuk pemula. Target audiens: pemula yang baru mengenal AI, usia 20-35 tahun. Tone: santai tapi informatif. Panjang: 150-200 kata. Sertakan 3 poin utama yang dibahas di video, yaitu cara mendaftar, cara menulis prompt dasar, dan fitur upload file. Akhiri dengan ajakan untuk subscribe dan komentar.

Perbedaan hasilnya benar-benar jauh. Dengan prompt yang detail seperti ini, Gemini memberikan deskripsi yang langsung bisa saya pakai dengan sedikit penyesuaian saja. Seperti yang pernah dibahas di artikel ini, semakin detail dan jelas prompt yang kita berikan ke AI, semakin berkualitas pula jawaban yang akan kita dapatkan.

Intinya, jangan pernah berharap hasil yang sempurna dari prompt yang “seadanya”. Gemini butuh konteks yang jelas untuk memberikan jawaban yang relevan.

Tidak menyimpan prompt yang sudah berhasil

Kesalahan kedua ini mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya benar-benar besar buat saya.

Setiap kali mendapatkan hasil yang bagus dari Gemini, saya hanya menyalin hasilnya saja. Prompt yang menghasilkan output berkualitas itu? Saya biarkan begitu saja, “tenggelam” di riwayat obrolan.

Masalahnya baru terasa ketika saya butuh hasil serupa di kemudian hari. Saya harus mulai dari nol lagi. Menulis prompt baru, trial-error berkali-kali, menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan kualitas yang sama dengan sebelumnya. Ini benar-benar buang waktu.

Sekarang saya punya kebiasaan baru. Setiap kali mendapat hasil yang memuaskan dari Gemini, saya langsung menyimpan prompt-nya di catatan. Saya bahkan sudah punya koleksi “template prompt” yang tinggal saya sesuaikan untuk berbagai keperluan.

Contohnya, saya punya template prompt untuk membuat deskripsi video, template untuk meringkas artikel, template untuk proofreading, dan masih banyak lagi. Dengan cara ini, saya tidak perlu lagi membuang waktu untuk mengulang proses yang sama dari awal.

Tips dari saya: buatlah satu folder khusus di aplikasi catatan kamu untuk menyimpan prompt-prompt yang sudah terbukti berhasil. Percayalah, Sobat Androbuntu akan berterima kasih pada diri sendiri di kemudian hari. Kalau kamu butuh inspirasi prompt yang siap pakai, kamu juga bisa melihat kumpulan prompt yang ada di Androbuntu.com.

Langsung pakai hasil output tanpa edit

Ini mungkin kesalahan yang paling memalukan. Saya pernah langsung mempublikasikan hasil output Gemini mentah-mentah tanpa melakukan review atau pengeditan apapun. Saya pikir, AI sehebat Gemini pasti menghasilkan konten yang sempurna dan siap pakai.

Ternyata tidak. Setelah dipublikasikan, saya baru sadar bahwa ada beberapa informasi yang kurang akurat, terutama untuk konteks Indonesia. Ada juga kalimat-kalimat yang terlalu formal dan kaku, sama sekali tidak sesuai dengan gaya penulisan saya yang lebih santai.

Sebenarnya ini bukan salah Gemini. Seperti yang pernah teman saya bahas di artikel tentang kesalahpahaman soal AI, AI memang tidak selalu memberikan jawaban yang 100% benar. Mereka bisa mengalami yang namanya halusinasi, yaitu memberikan informasi yang terdengar meyakinkan padahal salah.

Pelajaran yang saya ambil dari sini: output dari Gemini itu adalah draft, bukan hasil final. Sekarang saya selalu memperlakukannya sebagai bahan mentah yang harus diolah lagi. Setiap mendapat output dari Gemini, saya akan memeriksa akurasi informasinya, menyesuaikan gaya bahasanya agar sesuai dengan karakter saya, menambahkan sentuhan personal, dan memastikan konteksnya relevan untuk pembaca Indonesia.

Prompt yang sekarang saya gunakan untuk meminimalisir masalah ini kurang lebih seperti ini:

Buatkan draft artikel tentang [topik]. Gunakan bahasa Indonesia yang santai dan conversational. Hindari kalimat yang terlalu formal. Sertakan disclaimer jika ada informasi yang kamu tidak yakin kebenarannya. Fokuskan pembahasan pada konteks Indonesia.

Dengan menambahkan instruksi seperti itu, hasil yang diberikan Gemini sudah jauh lebih mendekati apa yang saya butuhkan. Tapi tetap, saya tidak pernah lagi mempublikasikan output AI tanpa mengeditnya terlebih dahulu.

Tidak memanfaatkan fitur upload file

Selama 3 bulan pertama menggunakan Gemini, saya hanya menggunakannya untuk percakapan teks biasa. Ketik pertanyaan, dapat jawaban, selesai. Saya sama sekali tidak tahu bahwa Gemini punya kemampuan yang jauh lebih dari itu.

Ternyata Gemini bisa membaca dan menganalisis file yang kita upload. PDF, gambar, spreadsheet, dan berbagai format lainnya. Dan saya baru mengetahui ini setelah 3 bulan menggunakannya. Bayangkan berapa banyak waktu yang sudah saya buang selama itu.

Dulu, kalau ingin meminta Gemini menganalisis data dari sebuah spreadsheet, saya mengetik ulang datanya secara manual ke dalam percakapan. Prosesnya lama, data sering salah ketik, dan hasilnya pun kurang akurat karena saya tidak bisa memasukkan semua data. Padahal seharusnya saya cukup upload file-nya langsung. Contoh prompt yang sekarang saya gunakan:

Saya upload file spreadsheet penjualan bulan Januari. Tolong analisis tren penjualan, produk mana yang paling laris, dan berikan rekomendasi strategi untuk bulan depan. Sajikan dalam bentuk poin-poin yang ringkas.

Dalam hitungan detik, Gemini memberikan analisis yang lengkap berdasarkan data yang ada di dalam file tersebut. Tidak perlu lagi ketik manual satu per satu.

Fitur ini juga sangat berguna untuk menganalisis dan mengedit gambar. Kamu bisa upload foto dan meminta Gemini untuk mendeskripsikan, mengedit, atau menganalisis gambar tersebut. Kalau kamu tertarik untuk mencoba edit foto menggunakan AI, kamu bisa lihat kumpulan prompt edit foto ini.

Gampangnya, jangan batasi penggunaan Gemini hanya untuk chat teks. Manfaatkan fitur multimodal-nya untuk efisiensi yang jauh lebih maksimal.

Dan menurut saya, ini adalah kekuatan utama AI seperti Gemini, yaitu membaca dan mengolah data berukuran besar serta kompleks. Jauh lebih efektif jika dibandingkan mengolahnya secara manual.

Mengharapkan Gemini bisa membaca pikiran saya

Ini adalah kesalahan yang mungkin juga banyak dilakukan oleh para pemula. Saya dulu mengira Gemini otomatis tahu apa yang saya inginkan tanpa perlu saya jelaskan secara detail.

Contohnya, saya pernah menulis prompt “buatkan skrip video youtube berjudul cara menggunakan Gemini” tanpa informasi tambahan apapun. Konten apa? Untuk platform apa? Target audiensnya siapa? Berapa durasi videonya? Semua informasi penting itu tidak saya sertakan. Tentu saja hasilnya meleset jauh dari ekspektasi. Ujung-ujungnya hanya buang-buang waktu

Padahal yang salah bukan Gemini-nya, tapi cara saya memberikan instruksi. Sekarang saya punya mindset yang berbeda. Saya memperlakukan Gemini seperti sedang memberi briefing ke asisten yang sangat pintar, tapi bukan pembaca pikiran.

Prompt yang sekarang saya gunakan untuk membuat naskah video YouTube kurang lebih seperti ini:

Saya seorang konten kreator YouTube di bidang teknologi. Buatkan saya ide konten untuk video YouTube tentang tips menggunakan Gemini untuk pemula. Target audiens: anak muda usia 18-30 tahun yang baru mengenal AI. Berikan 5 ide konten, masing-masing dengan judul, hook untuk 3 detik pertama, dan poin-poin utama yang harus dibahas. Tone: santai dan mudah dipahami.

Dengan prompt seperti ini, Gemini tahu persis apa yang saya butuhkan. Hasilnya jauh lebih relevan dan langsung bisa saya eksekusi.

Intinya, Gemini itu powerful, tapi tetap butuh instruksi yang jelas dari kita. Jangan pernah berasumsi bahwa AI tahu apa yang ada di pikiran kita. Seperti yang sudah saya ceritakan di artikel tentang cara saya menggunakan Gemini, kunci dari memaksimalkan AI adalah bagaimana kita berkomunikasi dengannya.

Semua kesalahan yang saya ceritakan di atas sebenarnya bermuara pada satu hal: saya belum memahami bagaimana cara yang tepat untuk “berkomunikasi” dengan AI. Dan kalau kamu baru mulai menggunakan Gemini atau AI lainnya, jangan khawatir kalau hasilnya belum sesuai harapan. Semua orang pernah ada di posisi itu, termasuk saya.

Yang penting adalah terus belajar dan terus perbaiki cara kamu memberikan instruksi ke AI. Dan kalau kamu merasa artikel ini membantu, jangan lupa bagikan ke teman atau rekan kerja kamu yang juga baru mulai menggunakan AI. Siapa tahu mereka juga sedang melakukan kesalahan yang sama seperti yang pernah saya lakukan.

Tidak punya banyak waktu?
Minta AI untuk meringkas artikel ini

Perplexity Pro

Perplexity Pro
Rp 69.000

ChatGPT Pro

ChatGPT Pro
Rp 70.000

Gemini Ultra

Gemini Ultra
Rp 80.000

Samsung Galaxy A26 5G

Samsung Galaxy A26 5G
Rp 3.999.000

Gamer paruh waktu.