Kesalahpahaman soal AI yang banyak dipercaya, dan fakta sebenarnya

AI sebenarnya bukan “barang” baru. Mereka sudah ada bertahun-tahun lalu. Namun chatbot seperti Gemini, ChatGPT dan Grok membuat “barang” ini seolah-olah adalah sesuatu yang baru.

Dan saya sering sekali mendapati kesalahpahaman soal AI ini. Baik di internet, atau di dunia nyata. Sama seperti banyak teknologi baru lainnya, AI juga “dikelilingi” dengan mitos dan rumor bagi mereka yang tidak tahu bagaimana cara teknologi ini bekerja.

Saya disini akan mencoba membahas beberapa poin yang paling sering disalahpahami oleh orang-orang. Jika salah satu poin ini juga pernah kalian percaya, tidak usah berkecil hati.

Kalian tidak bodoh, hanya belum tahu. Karenanya, jangan sungkan untuk membagikan artikel ini ke orang-orang terdekat kalian yang juga masih percaya mitos-mitos seputar AI.

Baca juga: Ini adalah prompt AI paling canggih yang pernah saya coba

Kesadaran AI

Peningkatan kemampuan AI memang sangat gila dari tahun ke tahun. Kini mereka dapat menghasilkan gambar yang sulit dibedakan dengan gambar manusia asli.

Beberapa chatbot bahkan ada yang gaya bicaranya benar-benar seperti manusia. Bahkan ChatGPT kini sering bergumam “hmmm” sebelum melanjutkan berbicara. Dan kalau diperhatian, ada suara nafas disela setiap kalimat yang ia ucapkan.

Intinya, perkembangan AI benar-benar sangat cepat. Sesuatu yang tadinya hanya dapat menerima input dan output berupa teks, kini mereka dapat menerima interaksi menggunakan video, gambar, teks dan lainnya.

Tapi percayalah, secanggih apapun mereka, mereka itu hanya kumpulan kode pemrograman yang berjalan diatas sebuah komputer. Mereka hanya akan aktif jika kita menggunakannya.

Cara mereka menggenerate konten berupa teks, suara, foto atau video, tidak lebih dari proses berdasarkan pola dan data yang diberikan pada mereka.

Jawaban AI selalu bisa dipercaya

Memang secara logika, jawaban AI seharusnya bisa dipercaya. Karena mereka dilatih menggunakan banyak data berupa teks, foto, video dan ribuan tipe data lainnya.

Tapi faktanya, AI tidak selalu bisa dipercaya. AI sering mengalami yang disebut sebagai halusinasi. Ini adalah kondisi dimana AI memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan, padahal sebenarnya jawaban itu salah.

Kenapa itu bisa terjadi? Simpelnya, AI bekerja dengan cara memprediksi kata apa yang paling mungkin benar berdasarkan pola data yang ada di database mereka. Karenanya, walau kadang terdengar masuk akal, tapi tidak semua jawaban yang diberikan AI adalah sesuatu yang benar.

Tidak heran jika co-founder OpenAI, Andi Leangle, berkata bahwa kita sebaiknya tidak mempercayai AI 100%. Mereka dapat membuat kesalahan (dan ini sangat sering terjadi).

AI akan menguasai dunia

Setiap minggunya ada saja artikel dari media online yang mengatakan bahwa AI akan menguasai dunia. Menghancukran umat manusia. Mengambil alih seluruh pekerjaan kita.

Saya tahu artikel itu hanyalah click-bait. Judulnya dilebih-lebihkan untuk menarik perhatian orang agar mengklik artikel tersebut.

Permasalahannya adalah, banyak orang yang percaya hal itu akan terjadi. Padahal, itu adalah hal yang tidak akan pernah terjadi (setidaknya untuk ratusan tahun mendatang).

AI mungkin akan memberikan kalian jawaban yang tidak relevan, halusinasi, mengambil data pribadi seperti nama, nomor hp dan email. Tapi untuk menguasai dunia, itu diluar jangkauan mereka.

Selalu memberikan jawaban yang sama

Ini juga salah satu kesalahpahaman umum tentang AI yang banyak dipercaya orang. Banyak yang mengira jika dua orang menggunakan AI yang sama (katakanlah Gemini), AI ini akan memberikan mereka jawaban yang sama.

Padahal, jawaban yang dihasilkan oleh AI tergantung dari bagaimana prompt atau perintah yang kita ketikkan. Semakin kompleks dan jelas prompt-nya, maka jawaban yang diberikan AI akan semakin jelas dan detail pula.

Begitu pun sebaliknya, jika ada orang yang memberikan prompt seadanya ke AI, maka jawaban yang diberikan AI pun akan seadanya pula. Walaupun mungkin konteks yang diberikan sama dengan orang lain.

Karenanya, sepowerful apapun AI yang kita gunakan, akan menjadi tidak seberguna itu jika penggunanya tidak bisa memberikan prompt yang jelas dan terstruktur. Jawaban yang akan diberikan AI tidak akan sebagus itu.

Mereka pintar seperti manusia

Banyak juga yang menyangka bahwa chatbot seperti ChatGPT, Gemini dan Grok itu cara kerjanya seperti manusia, yaitu berpikir sebelum menampilkan jawaban layaknya cara kerja otak manusia. Padahal, tidak sama sekali.

AI dapat menghasilkan jawaban yang sesuai dengan konteks pertanyaan yang kita berikan karena mereka “dilatih” dengan berjibun data yang diberikan pada mereka. Kemudian, dengan proses yang rumit, mereka memprediksi setiap kata yang mungkin cocok dan sesuai dengan konteks pertanyaan.

Berbeda dengan cara otak manusia bekerja yang lebih kreatif dan fleksibel. AI hanya mengandalkan data-data yang diberikan pada mereka.

Ikuti Channel YouTube Androbuntu dan dapatkan info teknologi terbaru setiap hari