Sejak ChatGPT mulai booming di akhir 2022, saya hampir tidak pernah melewatkan satu hari pun tanpa menggunakan AI. Entah itu untuk pekerjaan, belajar bahasa Arab, atau sekadar bereksperimen dengan prompt-prompt baru yang saya temukan.
Namun, dalam perjalanan saya menggunakan AI selama ini, saya menyadari satu hal yang cukup menarik. Ternyata masih banyak orang yang dengan tegas menolak untuk menggunakan AI, bahkan sekadar untuk mencobanya.
Tentu saja, setiap orang punya alasannya masing-masing. Dan saya sangat menghormati keputusan mereka. Tapi di sisi lain, saya juga merasa ada beberapa hal yang perlu diluruskan soal penolakan terhadap AI ini.
Baca juga: Alasan kenapa kamu harus belajar menggunakan AI sekarang juga
Saya sangat hormati para seniman yang menolak AI

Mari kita mulai dari kelompok yang paling berhak menolak AI, yaitu para seniman, pelukis, ilustrator, musisi, dan kreator konten yang memang sangat menjunjung tinggi originalitas karya.
Bagi mereka, proses menciptakan karya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hasil akhirnya. Jam terbang dalam berlatih, keringat yang mengucur saat mengerjakan sebuah lukisan, atau malam-malam yang dihabiskan untuk menulis lirik lagu adalah bagian dari perjalanan yang membuat karya mereka bernilai.
Ketika AI datang dan bisa “menciptakan” lukisan dalam hitungan detik, atau menghasilkan musik dalam beberapa menit, tentu ini terasa seperti ancaman terhadap nilai seni itu sendiri.
Saya pribadi sangat menghormati keputusan mereka untuk tidak menggunakan AI dalam proses berkarya. Karena memang, ada sesuatu yang berbeda antara karya yang dibuat dengan tangan manusia versus karya yang dihasilkan oleh mesin.
Keaslian dan sentuhan manusia dalam sebuah karya seni memiliki nilai yang tidak bisa digantikan oleh AI. Jadi jika kamu adalah seorang seniman yang memilih untuk tidak menggunakan AI demi menjaga originalitas karyamu, saya sangat menghormati pilihan itu.
Tapi untuk kamu yang pekerjaannya bisa terbantu AIā¦

Nah, ini yang membuat saya akhirnya tergerak untuk menulis artikel ini. Ada begitu banyak jenis pekerjaan yang sebenarnya bisa sangat terbantu dengan AI, tapi orangnya justru menolak untuk menggunakannya.
Kalau kamu bekerja di kantor dan menghabiskan sebagian besar waktu untuk mengolah data di Excel, membuat laporan, membalas email klien, atau menyusun presentasi, lalu kamu menolak menggunakan AI, maka jujur saja, kamu sedang melewatkan sesuatu yang luar biasa.
Atau kamu seorang guru yang harus membuat soal ujian, merangkum materi pelajaran, atau memberikan feedback ke puluhan siswa setiap hari. AI bisa membantu kamu menghemat waktu berjam-jam untuk hal-hal tersebut.
Bagaimana dengan kamu yang bekerja sebagai penulis konten, copywriter, atau content creator? AI bisa membantu brainstorming ide, menyusun outline artikel, bahkan membantu riset topik dengan lebih cepat.
Untuk programmer dan developer, AI seperti ChatGPT bisa menjadi asisten coding yang luar biasa. Kamu bisa minta bantuan untuk debug kode, membuat fungsi tertentu, atau bahkan belajar bahasa pemrograman baru dengan lebih efisien.
Bahkan untuk profesi seperti customer service, sales, marketing, peneliti, atau analis data, AI bisa memberikan nilai tambah yang signifikan dalam pekerjaan sehari-hari.
Saya paham, mungkin ada kekhawatiran bahwa menggunakan AI itu seperti “menyontek” atau mengurangi kemampuan kita sendiri. Tapi coba pikirkan seperti ini: apakah kamu merasa bersalah saat menggunakan kalkulator untuk menghitung angka-angka rumit? Atau merasa tidak jujur ketika menggunakan Google untuk mencari informasi?
AI pada dasarnya adalah tools, sama seperti kalkulator atau mesin pencari. Bedanya, AI jauh lebih powerful dan bisa membantu kamu dalam berbagai hal yang selama ini mungkin memakan waktu berjam-jam.
Bayangkan kamu harus membuat laporan bulanan yang biasanya memakan waktu 3-4 jam. Dengan menggunakan ChatGPT atau Gemini, kamu bisa menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu setengahnya, bahkan kurang.
Bukan berarti kamu jadi malas atau tidak kompeten. Justru sebaliknya, kamu menjadi lebih efisien dan punya waktu lebih banyak untuk fokus ke pekerjaan-pekerjaan lain yang lebih membutuhkan pemikiran kreatif dan strategis.
Saya sendiri hampir setiap hari menggunakan AI untuk berbagai keperluan pekerjaan. Mulai dari membuat logo, mengedit foto, hingga menulis kode untuk website (sebagian kode saya aplikasikan ke Androbuntu.com). Dan sejujurnya, produktivitas saya meningkat drastis sejak mulai serius menggunakan AI.
Jadi kalau kamu merasa “ah, saya tidak butuh AI”, padahal pekerjaanmu melibatkan pengolahan data, penulisan, coding, riset, atau komunikasi dengan banyak orang, maka kamu benar-benar sedang melewatkan kesempatan emas untuk bekerja lebih cerdas.
Kasus Boris Eldagsen dan Sony World Photography Awards 2023

Baiklah, sekarang saya mau ceritakan sebuah kasus yang cukup menghebohkan di dunia fotografi. Tahun 2023 lalu, seorang seniman bernama Boris Eldagsen mengirimkan karyanya ke Sony World Photography Awards.
Fotonya meniru gaya fotografi klasik hitam-putih yang sangat bagus. Para juri pun terkesan dan memutuskan untuk memberikan penghargaan kepada foto tersebut.
Plot twist-nya? Ternyata foto tersebut bukan foto sungguhan, melainkan gambar yang dihasilkan oleh AI.
Boris Eldagsen sendiri sebenarnya sengaja melakukan ini sebagai eksperimen. Dia ingin menguji apakah kompetisi fotografi sudah siap menerima gambar AI atau tidak. Dan ternyata, para juri yang notabene adalah profesional di bidang fotografi, tidak bisa membedakan foto asli dengan foto hasil AI.
Apa yang bisa kita pelajari dari kasus ini? Simple. Walaupun kamu tidak mau menggunakan AI, kamu tetap harus paham bagaimana AI bekerja dan apa yang bisa dilakukannya.
Kenapa? Karena mau tidak mau, AI sudah ada di mana-mana. Konten-konten yang kamu lihat di internet, foto-foto yang kamu temukan di media sosial, bahkan artikel yang kamu baca, bisa jadi adalah hasil dari AI.
Kalau kamu tidak paham cara kerja AI, kamu akan sangat mudah tertipu oleh konten-konten hasil AI yang berkeliaran di internet. Kamu bisa saja menyebarkan informasi yang sebenarnya palsu, atau percaya terhadap foto yang ternyata tidak pernah terjadi.
Jadi walaupun kamu memutuskan untuk tidak menggunakan AI dalam pekerjaanmu, setidaknya luangkan waktu untuk belajar AI dan memahami bagaimana teknologi ini bekerja. Dengan begitu, kamu bisa lebih kritis dalam menyaring informasi yang kamu terima setiap hari.
AI merusak alam? Mari kita lihat faktanya

Salah satu argumen yang sering saya dengar dari orang-orang yang menolak AI adalah: “AI itu merusak lingkungan karena servernya menggunakan listrik dan air yang sangat banyak.”
Oke, mari kita bedah argumen ini dengan logika yang jernih.
Ya, memang benar bahwa server AI menggunakan listrik dan air dalam jumlah yang cukup besar. Tapi apakah ini berarti kita harus berhenti menggunakan AI?
Coba pikirkan seperti ini: apakah kamu juga menolak menggunakan internet karena data center Google, Facebook, dan berbagai platform lainnya juga menggunakan listrik dan air dalam jumlah besar? Apakah kamu berhenti menggunakan smartphone karena pabrik-pabrik elektronik menghasilkan polusi?
Faktanya adalah, hampir semua teknologi modern yang kita gunakan memiliki jejak karbon. Mobil, pesawat, AC di rumah kamu, bahkan kulkas dan mesin cuci semuanya menggunakan listrik dan berkontribusi terhadap emisi karbon.
Yang membedakan adalah seberapa efisien teknologi tersebut dan seberapa besar manfaat yang diberikan dibandingkan dengan dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Dalam kasus AI, manfaat yang diberikan sangatlah besar. AI bisa membantu penelitian tentang energi terbarukan, memprediksi cuaca dengan lebih akurat untuk mengurangi kerugian akibat bencana alam, mengoptimalkan rute transportasi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, dan masih banyak lagi.
Selain itu, banyak perusahaan teknologi besar seperti Google, Microsoft, dan lainnya sudah berkomitmen untuk menggunakan energi terbarukan untuk menjalankan data center mereka. Jadi dampak terhadap lingkungan terus diminimalkan.
Jadi menolak menggunakan AI dengan alasan merusak lingkungan, menurut saya, adalah argumen yang kurang tepat. Kecuali kamu juga konsisten menolak menggunakan hampir semua teknologi modern lainnya.
Kalau memang tidak mau pakai, setidaknya pahami dulu

Saya selalu percaya bahwa keputusan yang terbaik adalah keputusan yang diambil berdasarkan informasi yang cukup. Bukan berdasarkan asumsi atau ketakutan yang tidak jelas.
Kalau kamu memutuskan untuk tidak menggunakan AI setelah benar-benar memahami cara kerjanya, mencobanya langsung, dan merasa bahwa ini bukan untuk kamu, maka saya sangat menghormati keputusan itu.
Tapi kalau kamu menolak AI hanya karena takut atau karena mendengar berbagai mitos yang tidak jelas kebenarannya, maka kamu sedang merugikan diri sendiri.
Belajar menggunakan AI sebenarnya tidak sesulit yang kamu bayangkan. Kamu bisa mulai dengan hal-hal sederhana. Coba tanyakan sesuatu ke ChatGPT atau Gemini. Lihat bagaimana mereka merespons. Eksperimen dengan berbagai prompt.
Kamu tidak perlu langsung menggunakan AI untuk pekerjaan-pekerjaan penting. Mulai dari hal-hal kecil dulu. Minta AI untuk merangkum artikel panjang yang ingin kamu baca. Atau minta mereka menjelaskan konsep yang tidak kamu pahami dengan bahasa yang sederhana.
Semakin kamu familiar dengan AI, semakin kamu akan paham kekuatan dan keterbatasannya. Dan dari situ, kamu bisa membuat keputusan yang lebih tepat tentang kapan dan bagaimana menggunakan AI dalam kehidupan atau pekerjaanmu.
Produktivitas vs originalitas: tidak harus memilih salah satu

Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang AI adalah bahwa menggunakan AI berarti mengorbankan originalitas dan kreativitas kita.
Padahal, kalau kamu menggunakannya dengan benar, AI justru bisa meningkatkan kreativitas kamu. Bagaimana caranya?
AI bisa membantu kamu dalam proses brainstorming. Ketika kamu stuck dan tidak tahu harus mulai dari mana, AI bisa memberikan berbagai ide yang bisa kamu kembangkan lebih lanjut.
AI juga bisa membantu kamu mengerjakan bagian-bagian yang repetitif dan membosankan, sehingga kamu punya lebih banyak energi dan waktu untuk fokus ke aspek-aspek yang benar-benar membutuhkan sentuhan kreatif kamu.
Saya sendiri sering menggunakan AI untuk hal-hal teknis seperti merapikan format artikel, mengecek grammar, atau membuat kode dasar untuk fitur website. Tapi untuk konten inti, strategi, dan keputusan-keputusan penting, tetap saya yang memutuskan.
Jadi AI bukan pengganti kreativitas manusia. Dia adalah partner yang bisa membantu kamu bekerja lebih efisien dan produktif.
Kesimpulan: bukan soal mau atau tidak mau, tapi tentang literasi

Setelah semua yang saya tulis di atas, intinya adalah ini: kamu bebas memilih untuk menggunakan AI atau tidak. Tapi pastikan keputusan kamu didasari oleh pemahaman yang cukup, bukan karena ketakutan atau mitos yang tidak jelas.
Untuk para seniman dan kreator yang ingin menjaga originalitas karya, saya sangat menghormati keputusan kalian untuk tidak menggunakan AI dalam proses berkarya.
Tapi untuk kamu yang bekerja di bidang yang bisa sangat terbantu dengan AI seperti administrasi, pendidikan, penulisan, pemrograman, customer service, marketing, riset, atau analisis data, saya sarankan untuk setidaknya mencoba dan memahami bagaimana AI bisa meningkatkan produktivitas kamu.
Dan bagi siapa pun yang memutuskan untuk tidak menggunakan AI dalam pekerjaan, setidaknya luangkan waktu untuk belajar tentang AI. Karena mau tidak mau, AI sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Dan memahami cara kerjanya akan membantu kamu untuk lebih kritis dalam menyaring informasi di era digital ini.
Yang terpenting, jangan sampai penolakan terhadap AI membuat kamu tertinggal atau tertipu oleh konten-konten AI yang semakin canggih. Literasi AI bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan di era sekarang.
Jadi, apakah kamu sudah siap untuk setidaknya memahami AI, walaupun mungkin tidak menggunakannya? Keputusan ada di tanganmu.
